Walaupun salju terus turun dan udara dingin
semakin menjadi, anjing itu tak bergeming
dari tempatnya semula. Rasa lapar, udara dingin,
dan kepenatan, tidak ia gubris.
Hanya satu yang ia inginkan,
berjumpa dengan sang majikan.
Disebuah stasiun kereta, seorang lelaki setengah baya
membelai seekor anjing berbulu putih. Tampaknya, lelaki
itu sangat menyayangi anjing itu. Kemudian, dia bergegas naik ke
sebuah gerbong kereta yang akan berangkat. Anjing itu menyalak
dan menggerak-gerakkan ekornya, seakan memberikan ucapan
selamat jalan pada sang majikan. Kereta segera melaju dan anjing itu
pun berlalu.
Ketika sore menjelang, sang anjing telah berada di depan stasiun.
Tepat di tempat ia berpisah dengan majikan pagi tadi. Matanya yang
tajam mengawasi setiap penumpang yang keluar masuk gerbong
kereta. Sesaat kemudian sang anjing menyalak “kegirangan” ketika
melihat seorang lelaki turun dari kereta dan menghampirinya.
Seperti saat berangkat, lelaki itu membelai leher sang majikan dan membawanya pergi. Begitulah peristiwa itu terjadi, setiap pagi anjing
itu pergi ke stasiun kereta mengantarkan sang majikan dan kembali
lagi pada sore hari untuk menjemput majikannya.
Suatu hari, terjadi sebuah bencana. Kereta api yang ditumpangi
lelaki itu mengalami kecelakaan, dia pun tewas, setelah tubuhnya
terhimpit bongkahan gerbong yang rusak berat.
Menjelang sore hari, sang anjing telah menunggu di halaman
stasiun kereta. Matanya terus memerhatikan orang-orang yang lalu
lalang, keluar masuk kereta. Sudah lama ia berada di tempat tersebut,
tapi majikan yang dinantinya tidak kunjung datang. Malam pun datang
menjelang, udara dingin mulai merasuki tulang. Orang-orang yang
ada di tempat itu satu persatu mulai menghilang. Kesunyian pun
segera menghampiri, Anjing itu tetap tak beranjak dari tempatnya.
Keesokan harinya, salju mulai turun menyelimuti seluruh kota,
tak terkecuali kawasan sekitar stasiun kereta. Walaupun salju terus
turun dan udara dingin semakin menjadi, anjing itu tak bergeming dari
tempatnya semula. Rasa lapar, udara dingin, dan kepenatan, tidak ia
gubris. Hanya satu yang ia inginkan, berjumpa dengan sang majikan.
Pagi harinya, orang-orang berkerumun di halaman stasiun kereta.
Dari wajah mereka tergambar rasa haru, di hadapannya terbujur
seekor anjing yang membeku. Ia mati demi kesetiaan.
Mengapa anjing itu rela mati kedinginan. sebab ia memiliki
kesetiaan dan pengabdian. Keduanya muncul dari rasa syukur atas
segala kebaikan yang telah ia terima dari majikannya. Kita bisa
berkaca. Pernahkah kita menghitung nikmat dan kasih sayang Allah
yang kita terima, pernahkah terbetik dalam sanubari kita untuk
mensyukurinya, atau, relakah kita mati untuk menggapai cinta Allah
Swt. yang abadi?
Wassalam.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar