Penulis : Habiburrahman El Shirazy ketika cinta bertasbih.adikaraya

Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia masih kanakkanak.
Bintang yang berkilauan di matanya tampak seumpama mata
ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumi. Bulan terasa begitu
anggun menciptakan kedamaian di dalam hati. Ia tak bisa
melewatkan pesona ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.
Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya jam tiga pagi.
Abah menggendong dan mengajaknya menikmati keindahan
surgawi. Keindahan pesona langit, bintang gemintang, dan bulan
yang sedemikian fitri.
”Di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang bertasbih.” Begitu
kata Abahnya yang tak lain adalah Kiai Lutfi sambil
menggendongnya. Ia tidak mungkin melupakannya.
”Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang tidak lalai.
Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan manusia terlelap
lalai.” Sambung Abah sambil membawanya ke masjid pesantren.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya mata air desa
Wangen. Setelah mengambil air wudhu, Abah mengajaknya keliling
pesantren, mengetok kamar demi kamar sambil berkata, ”Shalat,
shalat, shalat!” Setelah semua kamar diketuk, sang Abah
mengajaknya kembali ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri
ada yang sudah shalat. Ada yang masih mendengkur berselimut
sarung.
Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa.
”Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat.”
Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, AbahDan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, Abah
bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan yang
menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya kembali, Abah
mengajaknya keliling pesantren untuk kedua kalinya. Kali ini Abah
membangunkan para santri dengan suara lebih keras, dengan nada
sedikit berbeda,
”Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!” Lalu azan subuh
berkumandang.
Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam seperti bersahutsahutan
mengagungkan asma Allah. Fajar yang merekah selalu
mengalirkan ke dalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat
yang menciptakannya. Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan
nuansanya tak pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat
yang baru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda dari fajar
hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada sastrawan yang mampu mendetilkan keindahan panorama itu dengan bahasa pena.


mengenang serangan umum tahun 1949 yang dipimpin oleh Letnan
Kolonel Slamet Riyadi. Kalau tidak salah setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda kembali datang ke
Indonesia. Datang untuk kembali menjajah Indonesia. Dengan segala
cara Belanda ingin menguasai kembali Indonesia.
”Para pejuang kita tidak tinggal diam. Mereka berjihad membela
tanah air dan bangsa. Mereka korbankan harta, darah dan bahkan
nyawa. Terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan di mana mana
antara tahun 1945 sampai 1949. Pada tahun 1948 Belanda.

Ketika azan mengalun
merdu, Furqan dan Anna sudah keluar dari mobil. Mereka ke
resepsionis. Setelah Furqan tanda tangan seorang pelayan hotel
mengantarkan sampai kamar. Furqan memilih kamar yang mewah di 325 Edited by : Bon-q97
lantai enam. Begitu masuk kamar dan meletakkan tas tangannya,
Anna langsung ke jendela. Berdiri atau duduk di samping jendela
adalah kesukaan Anna sejak kecil. Ia tak bisa membayangkan sebuah
rumah tanpa jendela. Dari jendela kamar hotel itu keindahan
sebagian kota Solo bisa dinikmati.
Furqan berdiri di samping Anna.
”Indah ya Mas.” Kata Anna sambil melihat lampu lampu kota Solo
yang tampak memancar ke kuning kuningan.
”Iya.”
”Kita shalat maghrib dulu yuk.” Pinta Anna sambil perlahan
menutup gorden.
”Ayuk.”
Furqan masuk kamar mandi mengambil air wudhu. Sedangkan Anna
melepas jilbab dan kaos kakinya. Furqan keluar, gantian Anna yang
masuk. Usai wudhu Anna mengambil mukena dari kopornya. Furqan
memandangi wajah isterinya dalam-dalam. Ia selalu kagum dengan
wajah yang sangat penyabar itu. Anna tahu suaminya
memperhatikannya. Ia pun memandang lekat-lekat wajah suaminya.
Anna tersenyum. Demikian juga Furqan.
”Ayo sholat nanti kehabisan waktu kita.” Bibir Anna bergetar,
suaranya bening.
”Ayo.”
Furqan menghadap kiblat lalu mengucapkan Takbiratul Ihram.
Setelah Fatihah ia membaca surat Al Kafirun dan Al Ikhlas. Anna makmum di belakangnya dengan wajah menunduk khusyu’. Selesai
shalat, zikir dan doa, Anna mencium tangan suaminya.
Furqan bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Anna bangkit lalu berjalan
ke depan almari. Ia melepas gamisnya. Ia tidak canggung sedikit pun.
Furqan berdesir melihat apa yang dilakukan isterinya. Anna lalu
mengambil gaun pengantin yang ada di dalam kopor dan
mengenakannya. Tak lama kemudian Furqan bagai menyaksikan
bidadari turun dari langit. Ia teringat malam pertamanya. Malam
pertama yang menyiksa batinnya. Yang perihnya masih terasa sampai saat itu.
Anna mengambil parfumnya. Suasana malam pertama itu langsung
tercipta. Bau wangi yasmin menyebar pelan. Bau nan suci merasuk
ke hidung Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darahnya. Membuat
jantungnya berdegup kencang.
Furqan maju dan mencium kening isterinya. Tangan lentik Anna
menggeragap hendak melepas jas yang dikenakan Furqan. Wajah
Anna membara karena gairah.
”Apakah kau benar-benar siap, isteriku sayang?” Tanya Furqan.
”Aku sudah menunggunya dengan dada membara selama enam bulan
suamiku sayang. Apa kau tidak juga mengerti dan paham?”
”Kau siap dengan segala akibatnya?” ”Kalau tidak siap kenapa aku
mau jadi isterimu.” ”Tapi ada satu hal yang kau tidak tahu. Aku tidak
ingin menyampaikan hal ini. Tapi harus aku sampaikan malam ini.
Setelah itu terserah apa keputusanmu.” ”Aku tidak tahu apa yang
Mas maksud.” ”Dik aku sungguh sangat mencintaimu?” ”Sama aku
juga mencintai Mas.” ”Aku sungguh tak ingin kehilanganmu.” ”Aku tahu itu.”
”Namun aku tak ingin menzalimimu. Aku tidak menyentuh mahkota
yang paling berharga milikmu karena aku tidak ingin menzalimimu
Dik. Bukan karena aku tidak mampu. Ada satu tembok sangat kuat
dan berduri yang menghalangiku dari menyentuh mahkota paling
berharga milikmu.”
”Aku tak paham maksudmu Mas.” ”Sesungguhnya saat akad nikah
itu aku sudah tidak perjaka Dik.”
”Apa?!” Anna kaget.
”Maafkan aku Dik, tapi sungguh bukan aku menyengaja.”
”Aku tak percaya! Mas yang ketua PPMI! Mas yang jadi mahasiswa
kebanggaan orang-orang di KBRI! Mas yang sudah selesai S2 dan
kini mau S3! Mas yang mengajar ngaji para santri! Mas yang...
hiks... hiks...” Anna tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
”Maafkan aku Dik, tapi tolonglah kau dengarkan dulu ceritaku,
jangan marah dulu, jangan menangis dulu. Aku akan bercerita
dengan sejujur-jujurnya. Baru setelah itu terserah kamu. Terserah
mau kau apakan aku.” Ucap Furqan mengiba sambil menyeka air
mata Anna. ”Tolong, Dik, dengarkan ceritaku dulu, arjulk31” ”Baik
Mas, akan aku dengar. Tapi mendengar pengakuanmu itu hatiku
sudah sakit.” Kata Anna mengungkapkan rasa dalam hatinya.
”Maafkan aku Dik, maafkan...” Kata Furqan, ia lalu menceritakan
apa yang menimpanya sebelum ia pulang ke Indonesia. Ia bercerita
dengan sejujur-jujurnya.
Ia bercerita tentang peristiwa mengerikan yang menimpanya di
Hotel Meridien. Ia yang tahu-tahu bangun tidur dengan keadaan yang memalukan. Lalu pesan Miss Italiana yang mengintimidasinya.
Tentang foto-foto yang memalukan. Tentang tertangkapnya Miss
Italiana yang ternyata agen Mossad penyebar virus HIV.
Dan tentang dirinya yang divonis positif mengidap HIV. Serta janji
Kolonel Fuad untuk tidak menyebar berita tentangnya, juga janjinya
pada Kolonel Fuad untuk tidak menyebarkan virus HIV yang
diidapnya pada orang lain.
Anna mendengarkan cerita itu dengan hati perih. Ia merasa seperti
ada sebuah tombak berkarat yang menancap tepat di ulu hatinya.
Tangisnya meledak. Furqan diam di tempatnya. Ia tahu kenyataan itu
akan sangat menyakitkan Anna. Tapi jika tidak ia sampaikan ia akan
terus tersiksa. Ia merasa telah lepas dari satu beban psikologis.
Selanjutnya ia akan menyerahkan keputusan seluruhnya pada Anna.
Anna masih menangis tersedui-sedu. Furqan meremas remas
rambutnya, tak tahu ia harus berbuat apa saat itu. Tiba-tiba merasa
sangat kasihan pada isterinya yang sangat dicintainya itu.
Anna masih menangis. Gadis itu mengusap mukanya. Lalu
memandang wajah Furqan dengan nanar dan marah, ”Kau sangat
jahat! Kau begitu tega mendustaiku dan mendustai seluruh
keluargaku! Bahkan kau mendustai seluruh orang yang hadir saat
akad pernikahan kita! Sebelum menikah pegawai KUA itu
membacakan statusmu perjaka! Ternyata kau dusta! Lebih jahat lagi,
ternyata kau mengidap penyakit yang dibenci semua orang, dan kau
tega menyembunyikannya dariku! Kau jahat!”
”Maafkan aku Dik, aku memang jahat!” ”Sangat sulit bagiku
memaafkanmu Fur!” Anna tidak lagi memanggil dengan panggilan
Mas, tapi langsung memanggil nama Furqan! Itu sebagai tanda
dalam hati Anna sudah tidak ada lagi penghormatan pada Furqan.
”Ya aku jahat. Tapi satu hal yang aku minta kau pertimbangkan, aku
sangat mencintaimu, aku sangat menghormatimu, aku tidak ingin
menyakitimu. Aku jahat mungkin, tapi nuraniku mencegahku untuk
menyentuh mahkota kewanitaanmu. Kenapa? Karena aku tahu kau
bisa tertular virus itu. Aku tidak mau terjadi itu padamu. Kalau aku
mau aku bisa lebih jahat lagi. Malam pertama itu aku lakukan
tugasku sebagai suami. Selesai. Kau dan aku kena HIV selesai.
Ketika kau menggugatku aku akan gantian menggugatmu. Kau tidak
mungkin tahu aku kena HIV- Tapi aku tidak lakukan itu!”
”Terus kenapa kau nikahi aku, hah?!” ’Karena aku mencintaimu.”
Dan cintamu itu menyakiti aku! Cintamu itu kini jadi jahnannam
bagiku! Kalau seperti ini apa yang kau inginkan dariku? Sekedar jadi
boneka hias dalam kehidupanmu? Sekedar jadi aroma kamarmu yang
cuma kau hisap dan kau cium-cium baunya? Sekedar jadi simbol
kering. Keangkuhanmu sebagai kelas konglomerat yang merasa
berhak membeli apa saja? Apa yang kau inginkan dariku Furqan?”
”Aku sendiri tak tahu Dik.”
”Kau tahu syariat Fur! Kau tahu kitab Allah, kau tahu tuntunan
Rasulullah! Seharusnya kau tidak menikahiku, iya kan!? Kau tahu
kalau menikahiku itu akan jadi mudharat bagiku. Akan menyakitiku,
iya kan? Dan pernikahan yang pasti menyakiti isteri atau suami itu
haram hukumnya, iya kan!?” Anna mencecar dengan amarah. Ia
berusaha menjaga untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor.
”Iya. Kau benar Dik!”
”Kenapa yang haram itu kau lakukan juga, hah?! Apa kau tidak takut pada Allah!?”
Furqan diam.
”Aku minta maaf, Dik. Aku terima semua keputusanmu.”
”Baik. Ceraikan aku!” Ucap Anna penuh amarah. Jika ia punya palu
dan halal membunuh lelaki di hadapannya, rasanya ia ingin
menghantamkan palu itu ke kepala Furqan hingga hancur berkepingkeping.
Furqan diam. Hatinya bagai tertusuk pisau yang sangat tajam. Tapi ia
sudah menyiapkan saat-saat Anna akan mengucapkan kalimat itu. Ia
insyaf yang salah adalah dirinya, bukan Anna.
”Tak ada pilihan lain Dik?”
”Tidak!”
”Kalau begitu, kapan aku harus menceraikan dirimu?”
”Sekarang juga!”
”Sekarang?”
”Iya!”
”Akan aku ceraikan kamu Dik, meskipun dengan hati sakit, tapi
dengan dua syarat.”
”Aku tak mau ada syarat!”
”Kalau begitu urusannya akan jadi panjang, aku akan benar-benar
berubah jadi penjahat sekalian!”
”Maksudmu apa Fur?
”Kau tak sedikitpun berempati padaku. Aku ini sudah hancur sejak
sebelum pulang ke tanah air. Menikah denganmu adalah sedikit
untuk mengobati sakitku. Aku seperti mayat yang berjalan. Cahaya
hidupku seperti telah padam. Kau tahu, aku tak punsa tempat untuk
berbagi nestapa. Ayah ibuku saja tidak tahu apa yang sebenarnya
menimpa putranya. Dalam rasa sedihku yang hampir bercampur
putus asa aku masih menggunakan nuraniku. Yaitu dengan tetap
menjaga kesucianmu. Aku tak ingin menularkan virus itu padamu.
”Kau sedikitpun tak mau berempati padaku. Baiklah, aku cuma
mensyaratkan dua syarat yang tidak berat padamu kalau kau ingin
agar aku menceraikanmu. Yaitu pertama ijinkan aku mencium
keningmu sekali lagi. Ciuman perpisahan, sebab ketika kata-kata
cerai telah aku ucapkan maka aku tidak halal lagi menciummu. Yang
kedua, tolong rahasiakan apa yang menimpaku. Demi menjaga
kehormatan keluargaku dan juga kehormatan keluargamu. ”Kalau
kau obral cerita ini, dan kau tidak punya bukti, maka perang akan
berkobar amtara keluargaku dan keluargamu.
Kita semua akam sama-sama binasa. Meskipun aku tidak
menginginkannya, pasti orang-orang yang menyayangiku tidak akan
pernah terima dengan ceritamu. Katakan saja pada keluargamu, nanti
kalau kita cerai, cerai kita karena sudah tidak mungkin cocok lagi.
”Itulah syarat yang aku minta padamu. Kalau kau tidak juga mau
maka mungkin tak ada pilihan lagi bagiku kecuali jadi penjahat
sekalian. Toh kau sudah bilang aku jahat. Malam ini juga dengan
gaun pengantin yang kau kenakan akan aku renggut kehormatanmu
di kamar ini. Setelah itu terserah apa maumu. Seandainya kau
berteriak, aku santai saja, kita kan masih suami isteri. Aku berhak
melakukan itu padamu. Meskipun kau menolaknya.
”Kalau kau mengadu pada ayahmu misalnya kau merasa diperkosa,
paling mereka tertawa. Toh kamu sudah sering memperlihatkan di hadapan mereka pura-pura mandi sebelum Subuh. Kenapa kali ini
merasa diperkosa. Toh kita tadi berangkat dengan menampakkan
kemesraan di hadapan mereka. Hanya itu pilihan untukmu Dik.”
Furqan berkata kepada Anna dengan hati bergetar. Ia tidak ingin
mengatakan hal itu. Tapi entah kenapa melihat amarah Anna,
amarahnya ikut menyala. Mendengar perkataan Furqan, Anna jadi
berpikir bagaimana secepatnya menyelamatkan jiwanya. Ia tak mau
diperkosa sama Furqan. Ia tak bisa membayangkan dirinya terkena
virus HIV. Akhirnya dengan suara lunak, Anna menjawab,
”Baik, aku terima syaratmu. Tapi aku pegang janjimu, kau ceraikan
aku setelah kau mencium keningku.”
”Aku akan pegang janjiku. Allah jadi saksi kita berdua. Aku juga
pegang janjiku untuk merahasiakan yang terjadi di antara kita. Demi
menjaga kehormatan keluarga kita masing-masing.”
”Baik Fur.”
”Aku tahu, setelah ini kau pasti takut dan tidak mungkin tidur lagi
sekamar denganku. Jangan takut. Aku akan pesankan kamar
untukmu. Kau yang pegang kunci. Besok pagi kau bisa pulang pakai
taksi. Kau bisa memberikan alasan yang tepat pada keluargamu.”
Kata Furqan.
”Terima kasih Fur. Tapi biar aku cari hotel lain sendiri”
”Terserah kau, kemasilah barang-barangmu!”
Anna lalu mengemasi semua barangnya. Ia mengambil gamisnya lalu
masuk ke kamar mandi. Tidak seperti awal masuk hotel tadi tidak
peduli ganti pakaian di hadapan Furqan, kali ini ia merasa Furqan
adalah orang lain. Ia melepas gaun pengantinnya di kamar mandi dan menggantinya dengan gamis. Ia memakai jilbabnya kembali, juga
kaos kaki. Lalu ia keluar dan memasukkan gaun pengantinnya ke
koper.
”Sudah semua?” Tanya Furqan.
”Tak ada yang ketinggalan?”
”Tidak.”
”Kemarilah isteriku!” Kata Furqan.
Anna maju dan duduk di samping Furqan yang sejak tadi duduk di
tepi ranjang. Dengan penuh cinta Furqan mencium kening Anna.
Sebuah ciuman perpisahan.
”Maafkan aku Anna, aku telah menyakiti hatimu dan nyaris
menghancurkan hidupmu.” Lirih Furqan dengan suara terisak-isak.
”Aku percaya pada ceritamu Fur. Kau adalah korban tak bersalah.
Tapi aku tak bisa hidup denganmu lagi.” ”Aku tahu.”
”Aku sudah penuhi syaratmu, sekarang aku tagih janjimu!” Ucap
Anna tegas.
”Aku nikahi kau dengan baik-baik, maka aku cerai kau dengan baikbaik.
Mulai saat ini aku cerai kau Anna’ Kau bukan lagi isteriku, dan
aku bersumpah tak akan lagi kembali kepadamu!”
”Terima kasih Fur. Aku harus pergi!”
Dengan linangan air mata Anna keluar dari kamar itu. Ia tak tahu
akan ke mana. Yang ia inginkan adalah segera keluar dari hotel itu secepatnya. Ingin rasanya ia lari sejauh jauhnya lalu menangis
sejadi-jadinya.
Begitu Anna pergi, Furqan menangisi nestapanya. Orang yang paling
dicintainya itu sudah sangat jauh darinya. Ia merasa hanya mukjizat
yang akan mempertemukan dirinya dengan Anna kembali. Jika ia
dibenci oleh Anna, maka Anna tidaklah bersalah. Dirinyalah yang
salah. Apa dosa Anna sampai harus ikut terkena getah nestapa yang
menderanya. Dirinyalah yang zalim dan aniaya. Dialah yang selama
ini buta kehilangan kesadarannya.
Anna memejamkan mata. Bulir-bulir bening keluar dari kelopak
matanya. Ia mengadu kepada Yang Maha pengasih dan Penyayang,
Ya Allah hilangkanlah segala sebab yang menjadikan kami berkeluh
kesah takut, cemas, sedih, dan marah. Amin
Keluar dari Novotel, Anna langsung menghubungi taksi langganan
Abahnya. Lima belas menit kemudian, taksi itu datang
menjemputnya.
”Kemana Neng? Mau pulang?” Tanya sopir taksi yang sudah tua itu.
”Anu Pak. Antar saya ke Hotel Quality!”
”Baik Neng.”
Taksi berjalan ke arah Monumen Pers. Lalu belok kiri. Langit
tertutup awan tipis. Rembulan muncul tenggelam. Anna Althafunnisa
masih juga belum percaya apa yang dialaminya. Ia telah menjadi
janda. Ia cemas dan gelisah. Ia takut menghadapi status barunya yaitu seorang janda.
Anna menerawang ke depan dengan pandangan kosong, ia belum
menemukan kalimat apa yang akan disampaikannya kepada Abah
dan Umminya. Ia meraba dalam hati, apakah ini tafsir keraguan tipis
yang selalu menderanya saat akan mengiyakan lamaran Furqan dulu?
Kenapa dulu ia tergesa-gesa menjawab ’iya’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar