Walaupun salju terus turun dan udara dingin
semakin menjadi, anjing itu tak bergeming
dari tempatnya semula. Rasa lapar, udara dingin,
dan kepenatan, tidak ia gubris.
Hanya satu yang ia inginkan,
berjumpa dengan sang majikan.
Disebuah stasiun kereta, seorang lelaki setengah baya
membelai seekor anjing berbulu putih. Tampaknya, lelaki
itu sangat menyayangi anjing itu. Kemudian, dia bergegas naik ke
sebuah gerbong kereta yang akan berangkat. Anjing itu menyalak
dan menggerak-gerakkan ekornya, seakan memberikan ucapan
selamat jalan pada sang majikan. Kereta segera melaju dan anjing itu
pun berlalu.
Ketika sore menjelang, sang anjing telah berada di depan stasiun.
Tepat di tempat ia berpisah dengan majikan pagi tadi. Matanya yang
tajam mengawasi setiap penumpang yang keluar masuk gerbong
kereta. Sesaat kemudian sang anjing menyalak “kegirangan” ketika
melihat seorang lelaki turun dari kereta dan menghampirinya.
Seperti saat berangkat, lelaki itu membelai leher sang majikan dan membawanya pergi. Begitulah peristiwa itu terjadi, setiap pagi anjing
itu pergi ke stasiun kereta mengantarkan sang majikan dan kembali
lagi pada sore hari untuk menjemput majikannya.
Suatu hari, terjadi sebuah bencana. Kereta api yang ditumpangi
lelaki itu mengalami kecelakaan, dia pun tewas, setelah tubuhnya
terhimpit bongkahan gerbong yang rusak berat.
Menjelang sore hari, sang anjing telah menunggu di halaman
stasiun kereta. Matanya terus memerhatikan orang-orang yang lalu
lalang, keluar masuk kereta. Sudah lama ia berada di tempat tersebut,
tapi majikan yang dinantinya tidak kunjung datang. Malam pun datang
menjelang, udara dingin mulai merasuki tulang. Orang-orang yang
ada di tempat itu satu persatu mulai menghilang. Kesunyian pun
segera menghampiri, Anjing itu tetap tak beranjak dari tempatnya.
Keesokan harinya, salju mulai turun menyelimuti seluruh kota,
tak terkecuali kawasan sekitar stasiun kereta. Walaupun salju terus
turun dan udara dingin semakin menjadi, anjing itu tak bergeming dari
tempatnya semula. Rasa lapar, udara dingin, dan kepenatan, tidak ia
gubris. Hanya satu yang ia inginkan, berjumpa dengan sang majikan.
Pagi harinya, orang-orang berkerumun di halaman stasiun kereta.
Dari wajah mereka tergambar rasa haru, di hadapannya terbujur
seekor anjing yang membeku. Ia mati demi kesetiaan.
Mengapa anjing itu rela mati kedinginan. sebab ia memiliki
kesetiaan dan pengabdian. Keduanya muncul dari rasa syukur atas
segala kebaikan yang telah ia terima dari majikannya. Kita bisa
berkaca. Pernahkah kita menghitung nikmat dan kasih sayang Allah
yang kita terima, pernahkah terbetik dalam sanubari kita untuk
mensyukurinya, atau, relakah kita mati untuk menggapai cinta Allah
Swt. yang abadi?
Wassalam.....
"Alangkah buruknya kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya. Sesunguhnya jarak terbesar adalah yang terletak antara…..perbuatan dan yang semata - mata hasrat….karena dalam keteringatan tidak ada yang dinamakan jarak dan hanya dalam kelupaan terdapat teluk yang tidak bisa dijembatani baik oleh suaramu maupun matamu."
BATU NISAN JALALUDIN RUMI
Salah seorang sufi yang terkenal namanya sampai saat ini,syair syairnya sangat indah dan sampai pada tujuannya. Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi.
Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya
Kearifan Cinta
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
Nafsu
Nafsumu itu ibu segala berhala
Berhala kebedaan ular sawa
Berhala keruhanian naga
Itu ibarat perumpamaannya
Mudah sekali memecah berhala
Kalau diketuk hancurlah ia
Walau batu walaupun bata
Walau ular walaupun naga
Tapi bukan mudah mengalahkan nafsu
Jika hendak tahu bentuk nafsu
Bacalah neraka dengan tujuh pintu
Dari nafsu keluar ma’siat setiap waktu.
mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.
Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.
Cinta
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.
Kekasih
Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup
Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.
Mujahadah dan Makrifat
Makrifat itu pengenalan jiwa
Mengenal jiwa dan mengenal Tuhannya
Mengenal dengan sejelas jelasnya
Tidak kabur tapi jelas nyata
Mujahadah itu perjuangan dan usaha
Makrifat itu menuai hasilnya
Mujahadah itu dalam perjalanan
Makrifat itu matlamat tujuan
Makrifat itu pembuka rahsia
Makrifat itu sendiri rasa
Makrifat itu sagunya
Mujahadah itu memecah ruyungnya.
Saatnya Untuk Pulang
Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.
Sudah kita lihat cukup destinasi indah
dengan isyarat dalam ucap mereka
Inilah Rumah Tuhan. Melihat
butir padi seperti perangai semut,
tanpa ingin memanennya. Biar tinggalkan saja
sapi menggembala sendiri dan kita pergi
ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju
ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.
Kau dan Aku
Bahagia saat kita duduk di pendapa, kau dan aku,
Dua sosok dua tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan
Pada saat kita memasuki taman, kau dan aku.
Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama;
Bagai bulan kita bagikan cahaya terang bagi mereka.
Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, menyatu dalam nikmat tertinggi,
Bebas dari cakap orang, kau dan aku.
Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa riang sekali, kau dan aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku, yang duduk bersama di sudut rahasia,
Pada saat yang sama berada di Iraq dan Khorasan, kau dan aku.
Cinta
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…
Kau dan Aku
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –
Kau dan Aku.
Tindakan Dan Kata-Kata
Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak kerana mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu — kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
Menyatu Dalam Cinta
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”
‘Mati’ sebelum Engkau Mati
Tafsiran Muutu Qabla anta Muutu : Rumi
(’Mati’ sebelum Engkau Mati)
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…
Kembali Pada Tuhan
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
kerana Akulah jalan itu.”
Empat Lelaki Dan Penterjemah
Empat orang diberi sekeping wang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, kerana aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Kerana mereka tidak tahu erti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping wang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping wang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahawa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
Jalan i
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya,
kau akan binasa.
Jika mencuba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan syaitan.
Siapa Di Pintuku?
Katanya, “siapa di pintuku?”
Jawabku,”hamba-Mu yang lata,”
Katanya, “urusan apa yang kamu punya?”
Jawabku, ” ‘tuk mencumbu-Mu ya Rabb,”
Katanya,”berapa lama bakal kau kembara?”
Jawabku,”sampai Kau cegat daku,”
Katanya,”berapa lama kau didihkan di api?”
Jawabku, “sampai diriku murni,”
“Inilah sumpah cintaku
Demi Cinta semata
Kutinggalkan harta dan kuasa.”
Katanya, “kamu buktikan kasusmu
Tapi, kamu takpunya saksi,”
Kataku,”Tangisku, saksiku
wajah pasiku, saksiku,”
Katanya, saksimu takpunya sahsiah
matamu membasah ‘tuk dilihat.”
Jawabku,”atas kerahiman, adil-Mu
Mataku cerah dan tanpa salah,”
Katanya,”Apa yang kaucari?”
Jawabku, “Kamu! ‘tuk jadi rekan dampinganku,”
Katanya, “apa yang kamu mau dariku,”
Jawabku,”Kemuliaan, kemesraanmu,”
Katanya,”Siapa teman sekembaramu?”
Jawabku,”Ingatan kepada-Mu, O Sang Raja,”
Katanya, “Apa yang membuatmu ke mari?”
Jawabku,”Kelezatan anggur-Mu,”
Katanya, “Apa yang membuatmu puas?”
Jawabku, “Dampingan-Mu Sang Maharaja”
Katanya,”Apa yang kamu temui di sini?”
Jawabku, “Seratus keajaiban,”
Katanya,”Mengapa istana ditinggal porakperanda?”
Jawabku,”Mereka takutkan perampok,”
Katanya, “Siapa perampok itu?”
jawabku,” Seseorang yang lari dari-Mu,”
Katanya,”Tidak adakah keselamatan di situ?”
Jawabku,”Dengan hadirnya Cinta-Mu,”
Katanya,” Apa faedah yang kamu terima dari kehidupan?”
Jawabku,”Dengan jujur kepada diriku,”
Kini masa untuk menyepi.
Kalau kukatakan padamu tentang intisari sebenarnya
Kau bakal terbang, dirimu akan sirna
Dan tiada pintu, tiada bumbung dapat menarikmu kembali.
Bahagia Sejenak
Bahagia sejenak
kamu dan aku duduk di serambi
kita dua, tapi satu roh, kamu dan aku
kita rasa aliran air kehidupan di sini
kamu dan aku dengan keindahan taman
dan burungburung bernyanyi
bintangbintang menatap kita
dan kita menanyakan mereka
‘gimana mau menjadi bulan sabit kecil
kamu dan aku bukan diri, bakal menyatu
takberasingan, betapa spekulasi kamu dan aku.
tiong syorgawi bakal retakkan gula
waktu kita tertawa bersama, kamu dan aku
dalam satu bentuk di muka bumi ini
dan dalam bentuk lain di bumi manis
di kebebasan waktu yang tak tecatat
Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai
Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
“Kisah Keajaiban Cinta”
Kamu pipa air yang kering dan aku hujannya/kamu kota yang hancur dan aku arsiteknya/tanpa khidmat padaku sang mentari suka cita/kamu takkan pernah mencicipi bahagia.
Apa Yang mesti Ku lakukan
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia ini ataupun dari akhirat, bukan dari Syurga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabuk oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabuk gila-gilaan
Kalau sekali saja aku seminit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabuk dan gila-gilaan.
Nubuwah Cinta dari Rumi
Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada!
sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, “KepadaNya kita akan kembali.”
Rumi bernyanyi
Ngengat-ngengat, terbakar oleh cahaya obor di wajah Sang Kekasih, adalah pecinta-pecinta yang berdiam di tempat suci.
Kalaupun kita dianggap gila atau mabuk, ini karena Pembawa Piala dan Sang Piala.
Karena mulutku telah mengunyah Kemanisan-Nya Dalam pandangan yang jelas kulihat Dia berhadap-hadapan.
Warna Agama
“Chinese Art and Greek Art”
Rasul pernah berkata, “Ada orang-orang yang melihatku
di dalam cahaya yang sama seperti aku melihat mereka.
Kami adalah satu.
Walau tak terhubung oleh tali apapun,
walau tak menghafal buku dan kebiasaan,
kami meminum air kehidupan bersama-sama.”
Inilah sebuah kisah
tentang misteri yang tersimpan:
Sekelompok Tiongkok mengajak sekelompok Yunani
bertengkar tentang siapa dari mereka
adalah pelukis yang terhebat.
Lalu raja berkata, “Kita buktikan ini dengan debat.”
Tiongkok memulai perdebatan.
Tapi Yunani hanya diam, mereka tak suka perdebatan.
Tiongkok lalu meminta dua ruangan
untuk membuktikan kehebatan lukisan mereka,
dua ruang yang saling menghadap
terpisah hanya oleh tirai.
Tiongkok meminta pada raja
beberapa ratus warna lagi, dengan segala jenisnya.
Maka setiap pagi, mereka pergi
ke tempat penyimpanan pewarna kain
dan mengambil semua yang ada.
Yunani tidak menggunakan warna,
“warna bukanlah lukisan kami.”
Masuklah mereka ke ruangannya
lalu mulai membersihkan dan menggosok dindingnya.
Setiap hari, setiap saat, mereka membuat
dinding-dindingnya lebih bersih lagi,
seperti bersihnya langit yang terbuka.
Ada sebuah jalan yang membawa semua warna
menjadi ‘warna tak lagi ada’. Ketahuilah,
seindah-indahnya berbagai jenis warna
di awan dan langit, semua berasal dari
sempurnanya kesederhanaan matahari dan bulan.
Tiongkok telah selesai, dan mereka sangat bangga
tambur ditabuh dalam kesenangan
dengan selesainya lukisan agung mereka.
Waktu raja memasuki ruangan, terpana dia
karena keindahan warna dan seluk-beluknya.
Lalu Yunani menarik tirai yang memisahkan ruangan mereka.
Dan tampaklah bayangan lukisan Tiongkok dan semua pelukisnya
berkilauan terpantul pada dindingnya yang kini bagaikan cermin bening,
seakan mereka hidup di dalam dinding itu.
Bahkan lebih indah lagi, karena
tampaknya mereka selalu berubah warna.
Seni lukis Yunani itulah jalan sufi.
Jangan hanya mempelajarinya dari buku.
Mereka membuat cintanya bening, dan lebih bening.
Tanpa hasrat, tanpa amarah. Dalam kebeningan itu
mereka menerima dan memantulkan kembali
lukisan dari setiap potong waktu,
dari dunia ini, dari gemintang, dari tirai penghalang.
Mereka mengambil jalan itu ke dalam dirinya,
sebagaimana mereka melihat
melalui beningnya Cahaya
yang juga sedang melihat mereka semua.
dia bernyanyi
Reguklah dalam-dalam cinta duniawi,
agar bibirmu mampu mengecap
anggur cinta yang lebih suci.
Aku mendengar dan terpikat;
ruhku bergegas untuk merengkuh
dekapan penerimaan Cinta,
karena suara itu begitu manis.
Terang Benderang
Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula
Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.
Mencinta adalah mencapai Tuhan
Takkan pernah lagi dada seorang Pencinta merasakan kesedihan
Takkan pernah lagi jubah seorang Pencinta tersentuh kematian
Takkan pernah lagi jazad seorang Pencinta ditemukan terkubur di tanah
Mencinta adalah mencapai Tuhan
jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.
Kenapa aku harus mencari?
Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang kucari adalah diriku sendiri!
“Wahai kegilaan yang membuai, Kasih !
Engkau Tabib semua penyakit kami !
Engkau penyembuh harga diri,
Engkau Plato dan Galen kami !
Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Apa yang dapat kulakukan hai orang-orang Muslim ?
Aku sendiri tidak tahu.
Aku bukan orang kristen, bukan orang Yahudi, bukan orang Magi, bukan orang Mosul,
Bukan dari Timur, bukan dari barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Bukan dari tambang Alama, bukan dari langit yang melingkar,
Bukan dari bumi, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Bukan dari singgasana, bukan dari tanah, dari eksistensi, dari ada,
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqsee,
Bukan dari kerajaan-kerajaan Irak dan Kurasan,
Bukan dari dunia ini atau yang berikutnya; dari syurga atau neraka,
Bukan dari Adam, Hawa, taman-taman syurgawi, atau firdausi,
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai.
Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,
Lewat cintalah semua yang tembaga akan jadi emas,
Lewat cintalah semua endapan akan jadi anggur murni,
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat,
Lewat cintalah si mati akan jadi hidup,
Lewat cintalah Raja jadi budak.
Simbolisme Sufi
Pelukan dan ciuman adalah pesona-pesona cinta.
Tidur adalah kontemplasi,
Parfum adalah harapan untuk berkah Ilahi.
Penyembah berhala berarti manusia dengan keyakinan murni, bukan kaum kafir.
Anggur, yang dilarang oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya, digunakan sebagai sebuah symbol-kata oleh kaum Sufi untuk menunjuk pengetahuan spiritual, dan
Penjual anggur berarti seorang pemandu spiritual.
Sebuah Kedai minum adalah tempat dimana anggur cinta Ilahi memabukkan para musafir.
Kemabukan berarti ekstase religius, Keriangan adalah kesenangan dalam cinta Sang Khaliq.
Keindahan berarti keagungan Sang Kekasih.
Rambut ikal dan Rambut berarti kemurnian yang menyelubungi wajah Kesatuan dari para pecinta-Nya.
Pipi berarti esensi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Bulu halus adalah dunia ruh-ruh suci yang paling dekat dengan Ketuhanan. Tahi lalat pada pipi adalah titik Kesatuan yang tak bisa dibagi.
Obor adalah cahaya yang terpancar dalam hati oleh Sang Kekasih.
Lihat hanya Satu,
katakan hanya Satu,
kenal hanya Satu.
SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!
Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.
JALAN
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.
EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH
Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, karena aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU
Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, istrinya Adam,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, “Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja.” Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, “Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita.”
DIMENSI LAIN
Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus —
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
MANFAAT PENGALAMAN
Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA
Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
JOHA DAN KEMATIAN
Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, “Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga…”
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
“Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!”
KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI
Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?
REALITAS SEJATI
Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
JIWA MANUSIA
Pergilah lebih tinggi — Lihatlah Jiwa Manusia!
PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN
Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.
AKAN JADI APA DIRIKU?
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat —
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada ‘dosa’ atau ‘kebaikan’?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan – Rasul!
KEBENARAN
Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
“Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini.”
ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
RUMAH
Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.”
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.
BURUNG HANTU
Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
UPAYA
Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
PENCARIAN
Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.
TUGAS INI
Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.
KOMUNITAS CINTA
Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
SEBUAH BUKU
Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.
TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI
Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia
Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya
Kearifan Cinta
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
Nafsu
Nafsumu itu ibu segala berhala
Berhala kebedaan ular sawa
Berhala keruhanian naga
Itu ibarat perumpamaannya
Mudah sekali memecah berhala
Kalau diketuk hancurlah ia
Walau batu walaupun bata
Walau ular walaupun naga
Tapi bukan mudah mengalahkan nafsu
Jika hendak tahu bentuk nafsu
Bacalah neraka dengan tujuh pintu
Dari nafsu keluar ma’siat setiap waktu.
mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.
Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.
Cinta
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.
Kekasih
Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup
Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.
Mujahadah dan Makrifat
Makrifat itu pengenalan jiwa
Mengenal jiwa dan mengenal Tuhannya
Mengenal dengan sejelas jelasnya
Tidak kabur tapi jelas nyata
Mujahadah itu perjuangan dan usaha
Makrifat itu menuai hasilnya
Mujahadah itu dalam perjalanan
Makrifat itu matlamat tujuan
Makrifat itu pembuka rahsia
Makrifat itu sendiri rasa
Makrifat itu sagunya
Mujahadah itu memecah ruyungnya.
Saatnya Untuk Pulang
Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.
Sudah kita lihat cukup destinasi indah
dengan isyarat dalam ucap mereka
Inilah Rumah Tuhan. Melihat
butir padi seperti perangai semut,
tanpa ingin memanennya. Biar tinggalkan saja
sapi menggembala sendiri dan kita pergi
ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju
ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.
Kau dan Aku
Bahagia saat kita duduk di pendapa, kau dan aku,
Dua sosok dua tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan
Pada saat kita memasuki taman, kau dan aku.
Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama;
Bagai bulan kita bagikan cahaya terang bagi mereka.
Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, menyatu dalam nikmat tertinggi,
Bebas dari cakap orang, kau dan aku.
Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa riang sekali, kau dan aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku, yang duduk bersama di sudut rahasia,
Pada saat yang sama berada di Iraq dan Khorasan, kau dan aku.
Cinta
CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…
Kau dan Aku
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –
Kau dan Aku.
Tindakan Dan Kata-Kata
Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak kerana mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu — kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
Menyatu Dalam Cinta
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”
‘Mati’ sebelum Engkau Mati
Tafsiran Muutu Qabla anta Muutu : Rumi
(’Mati’ sebelum Engkau Mati)
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…
Kembali Pada Tuhan
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
kerana Akulah jalan itu.”
Empat Lelaki Dan Penterjemah
Empat orang diberi sekeping wang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, kerana aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Kerana mereka tidak tahu erti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping wang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping wang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahawa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
Jalan i
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya,
kau akan binasa.
Jika mencuba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan syaitan.
Siapa Di Pintuku?
Katanya, “siapa di pintuku?”
Jawabku,”hamba-Mu yang lata,”
Katanya, “urusan apa yang kamu punya?”
Jawabku, ” ‘tuk mencumbu-Mu ya Rabb,”
Katanya,”berapa lama bakal kau kembara?”
Jawabku,”sampai Kau cegat daku,”
Katanya,”berapa lama kau didihkan di api?”
Jawabku, “sampai diriku murni,”
“Inilah sumpah cintaku
Demi Cinta semata
Kutinggalkan harta dan kuasa.”
Katanya, “kamu buktikan kasusmu
Tapi, kamu takpunya saksi,”
Kataku,”Tangisku, saksiku
wajah pasiku, saksiku,”
Katanya, saksimu takpunya sahsiah
matamu membasah ‘tuk dilihat.”
Jawabku,”atas kerahiman, adil-Mu
Mataku cerah dan tanpa salah,”
Katanya,”Apa yang kaucari?”
Jawabku, “Kamu! ‘tuk jadi rekan dampinganku,”
Katanya, “apa yang kamu mau dariku,”
Jawabku,”Kemuliaan, kemesraanmu,”
Katanya,”Siapa teman sekembaramu?”
Jawabku,”Ingatan kepada-Mu, O Sang Raja,”
Katanya, “Apa yang membuatmu ke mari?”
Jawabku,”Kelezatan anggur-Mu,”
Katanya, “Apa yang membuatmu puas?”
Jawabku, “Dampingan-Mu Sang Maharaja”
Katanya,”Apa yang kamu temui di sini?”
Jawabku, “Seratus keajaiban,”
Katanya,”Mengapa istana ditinggal porakperanda?”
Jawabku,”Mereka takutkan perampok,”
Katanya, “Siapa perampok itu?”
jawabku,” Seseorang yang lari dari-Mu,”
Katanya,”Tidak adakah keselamatan di situ?”
Jawabku,”Dengan hadirnya Cinta-Mu,”
Katanya,” Apa faedah yang kamu terima dari kehidupan?”
Jawabku,”Dengan jujur kepada diriku,”
Kini masa untuk menyepi.
Kalau kukatakan padamu tentang intisari sebenarnya
Kau bakal terbang, dirimu akan sirna
Dan tiada pintu, tiada bumbung dapat menarikmu kembali.
Bahagia Sejenak
Bahagia sejenak
kamu dan aku duduk di serambi
kita dua, tapi satu roh, kamu dan aku
kita rasa aliran air kehidupan di sini
kamu dan aku dengan keindahan taman
dan burungburung bernyanyi
bintangbintang menatap kita
dan kita menanyakan mereka
‘gimana mau menjadi bulan sabit kecil
kamu dan aku bukan diri, bakal menyatu
takberasingan, betapa spekulasi kamu dan aku.
tiong syorgawi bakal retakkan gula
waktu kita tertawa bersama, kamu dan aku
dalam satu bentuk di muka bumi ini
dan dalam bentuk lain di bumi manis
di kebebasan waktu yang tak tecatat
Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai
Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
“Kisah Keajaiban Cinta”
Kamu pipa air yang kering dan aku hujannya/kamu kota yang hancur dan aku arsiteknya/tanpa khidmat padaku sang mentari suka cita/kamu takkan pernah mencicipi bahagia.
Apa Yang mesti Ku lakukan
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia ini ataupun dari akhirat, bukan dari Syurga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabuk oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabuk gila-gilaan
Kalau sekali saja aku seminit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabuk dan gila-gilaan.
Nubuwah Cinta dari Rumi
Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada!
sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, “KepadaNya kita akan kembali.”
Rumi bernyanyi
Ngengat-ngengat, terbakar oleh cahaya obor di wajah Sang Kekasih, adalah pecinta-pecinta yang berdiam di tempat suci.
Kalaupun kita dianggap gila atau mabuk, ini karena Pembawa Piala dan Sang Piala.
Karena mulutku telah mengunyah Kemanisan-Nya Dalam pandangan yang jelas kulihat Dia berhadap-hadapan.
Warna Agama
“Chinese Art and Greek Art”
Rasul pernah berkata, “Ada orang-orang yang melihatku
di dalam cahaya yang sama seperti aku melihat mereka.
Kami adalah satu.
Walau tak terhubung oleh tali apapun,
walau tak menghafal buku dan kebiasaan,
kami meminum air kehidupan bersama-sama.”
Inilah sebuah kisah
tentang misteri yang tersimpan:
Sekelompok Tiongkok mengajak sekelompok Yunani
bertengkar tentang siapa dari mereka
adalah pelukis yang terhebat.
Lalu raja berkata, “Kita buktikan ini dengan debat.”
Tiongkok memulai perdebatan.
Tapi Yunani hanya diam, mereka tak suka perdebatan.
Tiongkok lalu meminta dua ruangan
untuk membuktikan kehebatan lukisan mereka,
dua ruang yang saling menghadap
terpisah hanya oleh tirai.
Tiongkok meminta pada raja
beberapa ratus warna lagi, dengan segala jenisnya.
Maka setiap pagi, mereka pergi
ke tempat penyimpanan pewarna kain
dan mengambil semua yang ada.
Yunani tidak menggunakan warna,
“warna bukanlah lukisan kami.”
Masuklah mereka ke ruangannya
lalu mulai membersihkan dan menggosok dindingnya.
Setiap hari, setiap saat, mereka membuat
dinding-dindingnya lebih bersih lagi,
seperti bersihnya langit yang terbuka.
Ada sebuah jalan yang membawa semua warna
menjadi ‘warna tak lagi ada’. Ketahuilah,
seindah-indahnya berbagai jenis warna
di awan dan langit, semua berasal dari
sempurnanya kesederhanaan matahari dan bulan.
Tiongkok telah selesai, dan mereka sangat bangga
tambur ditabuh dalam kesenangan
dengan selesainya lukisan agung mereka.
Waktu raja memasuki ruangan, terpana dia
karena keindahan warna dan seluk-beluknya.
Lalu Yunani menarik tirai yang memisahkan ruangan mereka.
Dan tampaklah bayangan lukisan Tiongkok dan semua pelukisnya
berkilauan terpantul pada dindingnya yang kini bagaikan cermin bening,
seakan mereka hidup di dalam dinding itu.
Bahkan lebih indah lagi, karena
tampaknya mereka selalu berubah warna.
Seni lukis Yunani itulah jalan sufi.
Jangan hanya mempelajarinya dari buku.
Mereka membuat cintanya bening, dan lebih bening.
Tanpa hasrat, tanpa amarah. Dalam kebeningan itu
mereka menerima dan memantulkan kembali
lukisan dari setiap potong waktu,
dari dunia ini, dari gemintang, dari tirai penghalang.
Mereka mengambil jalan itu ke dalam dirinya,
sebagaimana mereka melihat
melalui beningnya Cahaya
yang juga sedang melihat mereka semua.
dia bernyanyi
Reguklah dalam-dalam cinta duniawi,
agar bibirmu mampu mengecap
anggur cinta yang lebih suci.
Aku mendengar dan terpikat;
ruhku bergegas untuk merengkuh
dekapan penerimaan Cinta,
karena suara itu begitu manis.
Terang Benderang
Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula
Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.
Mencinta adalah mencapai Tuhan
Takkan pernah lagi dada seorang Pencinta merasakan kesedihan
Takkan pernah lagi jubah seorang Pencinta tersentuh kematian
Takkan pernah lagi jazad seorang Pencinta ditemukan terkubur di tanah
Mencinta adalah mencapai Tuhan
jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.
Kenapa aku harus mencari?
Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang kucari adalah diriku sendiri!
“Wahai kegilaan yang membuai, Kasih !
Engkau Tabib semua penyakit kami !
Engkau penyembuh harga diri,
Engkau Plato dan Galen kami !
Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Apa yang dapat kulakukan hai orang-orang Muslim ?
Aku sendiri tidak tahu.
Aku bukan orang kristen, bukan orang Yahudi, bukan orang Magi, bukan orang Mosul,
Bukan dari Timur, bukan dari barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Bukan dari tambang Alama, bukan dari langit yang melingkar,
Bukan dari bumi, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Bukan dari singgasana, bukan dari tanah, dari eksistensi, dari ada,
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqsee,
Bukan dari kerajaan-kerajaan Irak dan Kurasan,
Bukan dari dunia ini atau yang berikutnya; dari syurga atau neraka,
Bukan dari Adam, Hawa, taman-taman syurgawi, atau firdausi,
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai.
Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,
Lewat cintalah semua yang tembaga akan jadi emas,
Lewat cintalah semua endapan akan jadi anggur murni,
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat,
Lewat cintalah si mati akan jadi hidup,
Lewat cintalah Raja jadi budak.
Simbolisme Sufi
Pelukan dan ciuman adalah pesona-pesona cinta.
Tidur adalah kontemplasi,
Parfum adalah harapan untuk berkah Ilahi.
Penyembah berhala berarti manusia dengan keyakinan murni, bukan kaum kafir.
Anggur, yang dilarang oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya, digunakan sebagai sebuah symbol-kata oleh kaum Sufi untuk menunjuk pengetahuan spiritual, dan
Penjual anggur berarti seorang pemandu spiritual.
Sebuah Kedai minum adalah tempat dimana anggur cinta Ilahi memabukkan para musafir.
Kemabukan berarti ekstase religius, Keriangan adalah kesenangan dalam cinta Sang Khaliq.
Keindahan berarti keagungan Sang Kekasih.
Rambut ikal dan Rambut berarti kemurnian yang menyelubungi wajah Kesatuan dari para pecinta-Nya.
Pipi berarti esensi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Bulu halus adalah dunia ruh-ruh suci yang paling dekat dengan Ketuhanan. Tahi lalat pada pipi adalah titik Kesatuan yang tak bisa dibagi.
Obor adalah cahaya yang terpancar dalam hati oleh Sang Kekasih.
Lihat hanya Satu,
katakan hanya Satu,
kenal hanya Satu.
SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!
Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.
JALAN
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.
EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH
Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, karena aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU
Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, istrinya Adam,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, “Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja.” Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, “Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita.”
DIMENSI LAIN
Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus —
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
MANFAAT PENGALAMAN
Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA
Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
JOHA DAN KEMATIAN
Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, “Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga…”
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
“Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!”
KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI
Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?
REALITAS SEJATI
Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
JIWA MANUSIA
Pergilah lebih tinggi — Lihatlah Jiwa Manusia!
PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN
Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.
AKAN JADI APA DIRIKU?
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat —
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada ‘dosa’ atau ‘kebaikan’?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan – Rasul!
KEBENARAN
Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
“Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini.”
ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
RUMAH
Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.”
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.
BURUNG HANTU
Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
UPAYA
Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
PENCARIAN
Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.
TUGAS INI
Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.
KOMUNITAS CINTA
Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
SEBUAH BUKU
Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.
TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI
Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia
Penulis : Habiburrahman El Shirazy ketika cinta bertasbih.adikaraya
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia masih kanakkanak.
Bintang yang berkilauan di matanya tampak seumpama mata
ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumi. Bulan terasa begitu
anggun menciptakan kedamaian di dalam hati. Ia tak bisa
melewatkan pesona ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.
Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya jam tiga pagi.
Abah menggendong dan mengajaknya menikmati keindahan
surgawi. Keindahan pesona langit, bintang gemintang, dan bulan
yang sedemikian fitri.
”Di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang bertasbih.” Begitu
kata Abahnya yang tak lain adalah Kiai Lutfi sambil
menggendongnya. Ia tidak mungkin melupakannya.
”Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang tidak lalai.
Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan manusia terlelap
lalai.” Sambung Abah sambil membawanya ke masjid pesantren.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya mata air desa
Wangen. Setelah mengambil air wudhu, Abah mengajaknya keliling
pesantren, mengetok kamar demi kamar sambil berkata, ”Shalat,
shalat, shalat!” Setelah semua kamar diketuk, sang Abah
mengajaknya kembali ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri
ada yang sudah shalat. Ada yang masih mendengkur berselimut
sarung.
Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa.
”Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat.”
Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, AbahDan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, Abah
bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan yang
menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya kembali, Abah
mengajaknya keliling pesantren untuk kedua kalinya. Kali ini Abah
membangunkan para santri dengan suara lebih keras, dengan nada
sedikit berbeda,
”Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!” Lalu azan subuh
berkumandang.
Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam seperti bersahutsahutan
mengagungkan asma Allah. Fajar yang merekah selalu
mengalirkan ke dalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat
yang menciptakannya. Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan
nuansanya tak pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat
yang baru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda dari fajar
hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada sastrawan yang mampu mendetilkan keindahan panorama itu dengan bahasa pena.
mengenang serangan umum tahun 1949 yang dipimpin oleh Letnan
Kolonel Slamet Riyadi. Kalau tidak salah setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda kembali datang ke
Indonesia. Datang untuk kembali menjajah Indonesia. Dengan segala
cara Belanda ingin menguasai kembali Indonesia.
”Para pejuang kita tidak tinggal diam. Mereka berjihad membela
tanah air dan bangsa. Mereka korbankan harta, darah dan bahkan
nyawa. Terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan di mana mana
antara tahun 1945 sampai 1949. Pada tahun 1948 Belanda.
Ketika azan mengalun
merdu, Furqan dan Anna sudah keluar dari mobil. Mereka ke
resepsionis. Setelah Furqan tanda tangan seorang pelayan hotel
mengantarkan sampai kamar. Furqan memilih kamar yang mewah di 325 Edited by : Bon-q97
lantai enam. Begitu masuk kamar dan meletakkan tas tangannya,
Anna langsung ke jendela. Berdiri atau duduk di samping jendela
adalah kesukaan Anna sejak kecil. Ia tak bisa membayangkan sebuah
rumah tanpa jendela. Dari jendela kamar hotel itu keindahan
sebagian kota Solo bisa dinikmati.
Furqan berdiri di samping Anna.
”Indah ya Mas.” Kata Anna sambil melihat lampu lampu kota Solo
yang tampak memancar ke kuning kuningan.
”Iya.”
”Kita shalat maghrib dulu yuk.” Pinta Anna sambil perlahan
menutup gorden.
”Ayuk.”
Furqan masuk kamar mandi mengambil air wudhu. Sedangkan Anna
melepas jilbab dan kaos kakinya. Furqan keluar, gantian Anna yang
masuk. Usai wudhu Anna mengambil mukena dari kopornya. Furqan
memandangi wajah isterinya dalam-dalam. Ia selalu kagum dengan
wajah yang sangat penyabar itu. Anna tahu suaminya
memperhatikannya. Ia pun memandang lekat-lekat wajah suaminya.
Anna tersenyum. Demikian juga Furqan.
”Ayo sholat nanti kehabisan waktu kita.” Bibir Anna bergetar,
suaranya bening.
”Ayo.”
Furqan menghadap kiblat lalu mengucapkan Takbiratul Ihram.
Setelah Fatihah ia membaca surat Al Kafirun dan Al Ikhlas. Anna makmum di belakangnya dengan wajah menunduk khusyu’. Selesai
shalat, zikir dan doa, Anna mencium tangan suaminya.
Furqan bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Anna bangkit lalu berjalan
ke depan almari. Ia melepas gamisnya. Ia tidak canggung sedikit pun.
Furqan berdesir melihat apa yang dilakukan isterinya. Anna lalu
mengambil gaun pengantin yang ada di dalam kopor dan
mengenakannya. Tak lama kemudian Furqan bagai menyaksikan
bidadari turun dari langit. Ia teringat malam pertamanya. Malam
pertama yang menyiksa batinnya. Yang perihnya masih terasa sampai saat itu.
Anna mengambil parfumnya. Suasana malam pertama itu langsung
tercipta. Bau wangi yasmin menyebar pelan. Bau nan suci merasuk
ke hidung Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darahnya. Membuat
jantungnya berdegup kencang.
Furqan maju dan mencium kening isterinya. Tangan lentik Anna
menggeragap hendak melepas jas yang dikenakan Furqan. Wajah
Anna membara karena gairah.
”Apakah kau benar-benar siap, isteriku sayang?” Tanya Furqan.
”Aku sudah menunggunya dengan dada membara selama enam bulan
suamiku sayang. Apa kau tidak juga mengerti dan paham?”
”Kau siap dengan segala akibatnya?” ”Kalau tidak siap kenapa aku
mau jadi isterimu.” ”Tapi ada satu hal yang kau tidak tahu. Aku tidak
ingin menyampaikan hal ini. Tapi harus aku sampaikan malam ini.
Setelah itu terserah apa keputusanmu.” ”Aku tidak tahu apa yang
Mas maksud.” ”Dik aku sungguh sangat mencintaimu?” ”Sama aku
juga mencintai Mas.” ”Aku sungguh tak ingin kehilanganmu.” ”Aku tahu itu.”
”Namun aku tak ingin menzalimimu. Aku tidak menyentuh mahkota
yang paling berharga milikmu karena aku tidak ingin menzalimimu
Dik. Bukan karena aku tidak mampu. Ada satu tembok sangat kuat
dan berduri yang menghalangiku dari menyentuh mahkota paling
berharga milikmu.”
”Aku tak paham maksudmu Mas.” ”Sesungguhnya saat akad nikah
itu aku sudah tidak perjaka Dik.”
”Apa?!” Anna kaget.
”Maafkan aku Dik, tapi sungguh bukan aku menyengaja.”
”Aku tak percaya! Mas yang ketua PPMI! Mas yang jadi mahasiswa
kebanggaan orang-orang di KBRI! Mas yang sudah selesai S2 dan
kini mau S3! Mas yang mengajar ngaji para santri! Mas yang...
hiks... hiks...” Anna tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
”Maafkan aku Dik, tapi tolonglah kau dengarkan dulu ceritaku,
jangan marah dulu, jangan menangis dulu. Aku akan bercerita
dengan sejujur-jujurnya. Baru setelah itu terserah kamu. Terserah
mau kau apakan aku.” Ucap Furqan mengiba sambil menyeka air
mata Anna. ”Tolong, Dik, dengarkan ceritaku dulu, arjulk31” ”Baik
Mas, akan aku dengar. Tapi mendengar pengakuanmu itu hatiku
sudah sakit.” Kata Anna mengungkapkan rasa dalam hatinya.
”Maafkan aku Dik, maafkan...” Kata Furqan, ia lalu menceritakan
apa yang menimpanya sebelum ia pulang ke Indonesia. Ia bercerita
dengan sejujur-jujurnya.
Ia bercerita tentang peristiwa mengerikan yang menimpanya di
Hotel Meridien. Ia yang tahu-tahu bangun tidur dengan keadaan yang memalukan. Lalu pesan Miss Italiana yang mengintimidasinya.
Tentang foto-foto yang memalukan. Tentang tertangkapnya Miss
Italiana yang ternyata agen Mossad penyebar virus HIV.
Dan tentang dirinya yang divonis positif mengidap HIV. Serta janji
Kolonel Fuad untuk tidak menyebar berita tentangnya, juga janjinya
pada Kolonel Fuad untuk tidak menyebarkan virus HIV yang
diidapnya pada orang lain.
Anna mendengarkan cerita itu dengan hati perih. Ia merasa seperti
ada sebuah tombak berkarat yang menancap tepat di ulu hatinya.
Tangisnya meledak. Furqan diam di tempatnya. Ia tahu kenyataan itu
akan sangat menyakitkan Anna. Tapi jika tidak ia sampaikan ia akan
terus tersiksa. Ia merasa telah lepas dari satu beban psikologis.
Selanjutnya ia akan menyerahkan keputusan seluruhnya pada Anna.
Anna masih menangis tersedui-sedu. Furqan meremas remas
rambutnya, tak tahu ia harus berbuat apa saat itu. Tiba-tiba merasa
sangat kasihan pada isterinya yang sangat dicintainya itu.
Anna masih menangis. Gadis itu mengusap mukanya. Lalu
memandang wajah Furqan dengan nanar dan marah, ”Kau sangat
jahat! Kau begitu tega mendustaiku dan mendustai seluruh
keluargaku! Bahkan kau mendustai seluruh orang yang hadir saat
akad pernikahan kita! Sebelum menikah pegawai KUA itu
membacakan statusmu perjaka! Ternyata kau dusta! Lebih jahat lagi,
ternyata kau mengidap penyakit yang dibenci semua orang, dan kau
tega menyembunyikannya dariku! Kau jahat!”
”Maafkan aku Dik, aku memang jahat!” ”Sangat sulit bagiku
memaafkanmu Fur!” Anna tidak lagi memanggil dengan panggilan
Mas, tapi langsung memanggil nama Furqan! Itu sebagai tanda
dalam hati Anna sudah tidak ada lagi penghormatan pada Furqan.
”Ya aku jahat. Tapi satu hal yang aku minta kau pertimbangkan, aku
sangat mencintaimu, aku sangat menghormatimu, aku tidak ingin
menyakitimu. Aku jahat mungkin, tapi nuraniku mencegahku untuk
menyentuh mahkota kewanitaanmu. Kenapa? Karena aku tahu kau
bisa tertular virus itu. Aku tidak mau terjadi itu padamu. Kalau aku
mau aku bisa lebih jahat lagi. Malam pertama itu aku lakukan
tugasku sebagai suami. Selesai. Kau dan aku kena HIV selesai.
Ketika kau menggugatku aku akan gantian menggugatmu. Kau tidak
mungkin tahu aku kena HIV- Tapi aku tidak lakukan itu!”
”Terus kenapa kau nikahi aku, hah?!” ’Karena aku mencintaimu.”
Dan cintamu itu menyakiti aku! Cintamu itu kini jadi jahnannam
bagiku! Kalau seperti ini apa yang kau inginkan dariku? Sekedar jadi
boneka hias dalam kehidupanmu? Sekedar jadi aroma kamarmu yang
cuma kau hisap dan kau cium-cium baunya? Sekedar jadi simbol
kering. Keangkuhanmu sebagai kelas konglomerat yang merasa
berhak membeli apa saja? Apa yang kau inginkan dariku Furqan?”
”Aku sendiri tak tahu Dik.”
”Kau tahu syariat Fur! Kau tahu kitab Allah, kau tahu tuntunan
Rasulullah! Seharusnya kau tidak menikahiku, iya kan!? Kau tahu
kalau menikahiku itu akan jadi mudharat bagiku. Akan menyakitiku,
iya kan? Dan pernikahan yang pasti menyakiti isteri atau suami itu
haram hukumnya, iya kan!?” Anna mencecar dengan amarah. Ia
berusaha menjaga untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor.
”Iya. Kau benar Dik!”
”Kenapa yang haram itu kau lakukan juga, hah?! Apa kau tidak takut pada Allah!?”
Furqan diam.
”Aku minta maaf, Dik. Aku terima semua keputusanmu.”
”Baik. Ceraikan aku!” Ucap Anna penuh amarah. Jika ia punya palu
dan halal membunuh lelaki di hadapannya, rasanya ia ingin
menghantamkan palu itu ke kepala Furqan hingga hancur berkepingkeping.
Furqan diam. Hatinya bagai tertusuk pisau yang sangat tajam. Tapi ia
sudah menyiapkan saat-saat Anna akan mengucapkan kalimat itu. Ia
insyaf yang salah adalah dirinya, bukan Anna.
”Tak ada pilihan lain Dik?”
”Tidak!”
”Kalau begitu, kapan aku harus menceraikan dirimu?”
”Sekarang juga!”
”Sekarang?”
”Iya!”
”Akan aku ceraikan kamu Dik, meskipun dengan hati sakit, tapi
dengan dua syarat.”
”Aku tak mau ada syarat!”
”Kalau begitu urusannya akan jadi panjang, aku akan benar-benar
berubah jadi penjahat sekalian!”
”Maksudmu apa Fur?
”Kau tak sedikitpun berempati padaku. Aku ini sudah hancur sejak
sebelum pulang ke tanah air. Menikah denganmu adalah sedikit
untuk mengobati sakitku. Aku seperti mayat yang berjalan. Cahaya
hidupku seperti telah padam. Kau tahu, aku tak punsa tempat untuk
berbagi nestapa. Ayah ibuku saja tidak tahu apa yang sebenarnya
menimpa putranya. Dalam rasa sedihku yang hampir bercampur
putus asa aku masih menggunakan nuraniku. Yaitu dengan tetap
menjaga kesucianmu. Aku tak ingin menularkan virus itu padamu.
”Kau sedikitpun tak mau berempati padaku. Baiklah, aku cuma
mensyaratkan dua syarat yang tidak berat padamu kalau kau ingin
agar aku menceraikanmu. Yaitu pertama ijinkan aku mencium
keningmu sekali lagi. Ciuman perpisahan, sebab ketika kata-kata
cerai telah aku ucapkan maka aku tidak halal lagi menciummu. Yang
kedua, tolong rahasiakan apa yang menimpaku. Demi menjaga
kehormatan keluargaku dan juga kehormatan keluargamu. ”Kalau
kau obral cerita ini, dan kau tidak punya bukti, maka perang akan
berkobar amtara keluargaku dan keluargamu.
Kita semua akam sama-sama binasa. Meskipun aku tidak
menginginkannya, pasti orang-orang yang menyayangiku tidak akan
pernah terima dengan ceritamu. Katakan saja pada keluargamu, nanti
kalau kita cerai, cerai kita karena sudah tidak mungkin cocok lagi.
”Itulah syarat yang aku minta padamu. Kalau kau tidak juga mau
maka mungkin tak ada pilihan lagi bagiku kecuali jadi penjahat
sekalian. Toh kau sudah bilang aku jahat. Malam ini juga dengan
gaun pengantin yang kau kenakan akan aku renggut kehormatanmu
di kamar ini. Setelah itu terserah apa maumu. Seandainya kau
berteriak, aku santai saja, kita kan masih suami isteri. Aku berhak
melakukan itu padamu. Meskipun kau menolaknya.
”Kalau kau mengadu pada ayahmu misalnya kau merasa diperkosa,
paling mereka tertawa. Toh kamu sudah sering memperlihatkan di hadapan mereka pura-pura mandi sebelum Subuh. Kenapa kali ini
merasa diperkosa. Toh kita tadi berangkat dengan menampakkan
kemesraan di hadapan mereka. Hanya itu pilihan untukmu Dik.”
Furqan berkata kepada Anna dengan hati bergetar. Ia tidak ingin
mengatakan hal itu. Tapi entah kenapa melihat amarah Anna,
amarahnya ikut menyala. Mendengar perkataan Furqan, Anna jadi
berpikir bagaimana secepatnya menyelamatkan jiwanya. Ia tak mau
diperkosa sama Furqan. Ia tak bisa membayangkan dirinya terkena
virus HIV. Akhirnya dengan suara lunak, Anna menjawab,
”Baik, aku terima syaratmu. Tapi aku pegang janjimu, kau ceraikan
aku setelah kau mencium keningku.”
”Aku akan pegang janjiku. Allah jadi saksi kita berdua. Aku juga
pegang janjiku untuk merahasiakan yang terjadi di antara kita. Demi
menjaga kehormatan keluarga kita masing-masing.”
”Baik Fur.”
”Aku tahu, setelah ini kau pasti takut dan tidak mungkin tidur lagi
sekamar denganku. Jangan takut. Aku akan pesankan kamar
untukmu. Kau yang pegang kunci. Besok pagi kau bisa pulang pakai
taksi. Kau bisa memberikan alasan yang tepat pada keluargamu.”
Kata Furqan.
”Terima kasih Fur. Tapi biar aku cari hotel lain sendiri”
”Terserah kau, kemasilah barang-barangmu!”
Anna lalu mengemasi semua barangnya. Ia mengambil gamisnya lalu
masuk ke kamar mandi. Tidak seperti awal masuk hotel tadi tidak
peduli ganti pakaian di hadapan Furqan, kali ini ia merasa Furqan
adalah orang lain. Ia melepas gaun pengantinnya di kamar mandi dan menggantinya dengan gamis. Ia memakai jilbabnya kembali, juga
kaos kaki. Lalu ia keluar dan memasukkan gaun pengantinnya ke
koper.
”Sudah semua?” Tanya Furqan.
”Tak ada yang ketinggalan?”
”Tidak.”
”Kemarilah isteriku!” Kata Furqan.
Anna maju dan duduk di samping Furqan yang sejak tadi duduk di
tepi ranjang. Dengan penuh cinta Furqan mencium kening Anna.
Sebuah ciuman perpisahan.
”Maafkan aku Anna, aku telah menyakiti hatimu dan nyaris
menghancurkan hidupmu.” Lirih Furqan dengan suara terisak-isak.
”Aku percaya pada ceritamu Fur. Kau adalah korban tak bersalah.
Tapi aku tak bisa hidup denganmu lagi.” ”Aku tahu.”
”Aku sudah penuhi syaratmu, sekarang aku tagih janjimu!” Ucap
Anna tegas.
”Aku nikahi kau dengan baik-baik, maka aku cerai kau dengan baikbaik.
Mulai saat ini aku cerai kau Anna’ Kau bukan lagi isteriku, dan
aku bersumpah tak akan lagi kembali kepadamu!”
”Terima kasih Fur. Aku harus pergi!”
Dengan linangan air mata Anna keluar dari kamar itu. Ia tak tahu
akan ke mana. Yang ia inginkan adalah segera keluar dari hotel itu secepatnya. Ingin rasanya ia lari sejauh jauhnya lalu menangis
sejadi-jadinya.
Begitu Anna pergi, Furqan menangisi nestapanya. Orang yang paling
dicintainya itu sudah sangat jauh darinya. Ia merasa hanya mukjizat
yang akan mempertemukan dirinya dengan Anna kembali. Jika ia
dibenci oleh Anna, maka Anna tidaklah bersalah. Dirinyalah yang
salah. Apa dosa Anna sampai harus ikut terkena getah nestapa yang
menderanya. Dirinyalah yang zalim dan aniaya. Dialah yang selama
ini buta kehilangan kesadarannya.
Anna memejamkan mata. Bulir-bulir bening keluar dari kelopak
matanya. Ia mengadu kepada Yang Maha pengasih dan Penyayang,
Ya Allah hilangkanlah segala sebab yang menjadikan kami berkeluh
kesah takut, cemas, sedih, dan marah. Amin
Keluar dari Novotel, Anna langsung menghubungi taksi langganan
Abahnya. Lima belas menit kemudian, taksi itu datang
menjemputnya.
”Kemana Neng? Mau pulang?” Tanya sopir taksi yang sudah tua itu.
”Anu Pak. Antar saya ke Hotel Quality!”
”Baik Neng.”
Taksi berjalan ke arah Monumen Pers. Lalu belok kiri. Langit
tertutup awan tipis. Rembulan muncul tenggelam. Anna Althafunnisa
masih juga belum percaya apa yang dialaminya. Ia telah menjadi
janda. Ia cemas dan gelisah. Ia takut menghadapi status barunya yaitu seorang janda.
Anna menerawang ke depan dengan pandangan kosong, ia belum
menemukan kalimat apa yang akan disampaikannya kepada Abah
dan Umminya. Ia meraba dalam hati, apakah ini tafsir keraguan tipis
yang selalu menderanya saat akan mengiyakan lamaran Furqan dulu?
Kenapa dulu ia tergesa-gesa menjawab ’iya’.
Bintang yang berkilauan di matanya tampak seumpama mata
ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumi. Bulan terasa begitu
anggun menciptakan kedamaian di dalam hati. Ia tak bisa
melewatkan pesona ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.
Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya jam tiga pagi.
Abah menggendong dan mengajaknya menikmati keindahan
surgawi. Keindahan pesona langit, bintang gemintang, dan bulan
yang sedemikian fitri.
”Di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang bertasbih.” Begitu
kata Abahnya yang tak lain adalah Kiai Lutfi sambil
menggendongnya. Ia tidak mungkin melupakannya.
”Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang tidak lalai.
Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan manusia terlelap
lalai.” Sambung Abah sambil membawanya ke masjid pesantren.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya mata air desa
Wangen. Setelah mengambil air wudhu, Abah mengajaknya keliling
pesantren, mengetok kamar demi kamar sambil berkata, ”Shalat,
shalat, shalat!” Setelah semua kamar diketuk, sang Abah
mengajaknya kembali ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri
ada yang sudah shalat. Ada yang masih mendengkur berselimut
sarung.
Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa.
”Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat.”
Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, AbahDan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, Abah
bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan yang
menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya kembali, Abah
mengajaknya keliling pesantren untuk kedua kalinya. Kali ini Abah
membangunkan para santri dengan suara lebih keras, dengan nada
sedikit berbeda,
”Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!” Lalu azan subuh
berkumandang.
Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam seperti bersahutsahutan
mengagungkan asma Allah. Fajar yang merekah selalu
mengalirkan ke dalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat
yang menciptakannya. Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan
nuansanya tak pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat
yang baru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda dari fajar
hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada sastrawan yang mampu mendetilkan keindahan panorama itu dengan bahasa pena.
mengenang serangan umum tahun 1949 yang dipimpin oleh Letnan
Kolonel Slamet Riyadi. Kalau tidak salah setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda kembali datang ke
Indonesia. Datang untuk kembali menjajah Indonesia. Dengan segala
cara Belanda ingin menguasai kembali Indonesia.
”Para pejuang kita tidak tinggal diam. Mereka berjihad membela
tanah air dan bangsa. Mereka korbankan harta, darah dan bahkan
nyawa. Terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan di mana mana
antara tahun 1945 sampai 1949. Pada tahun 1948 Belanda.
Ketika azan mengalun
merdu, Furqan dan Anna sudah keluar dari mobil. Mereka ke
resepsionis. Setelah Furqan tanda tangan seorang pelayan hotel
mengantarkan sampai kamar. Furqan memilih kamar yang mewah di 325 Edited by : Bon-q97
lantai enam. Begitu masuk kamar dan meletakkan tas tangannya,
Anna langsung ke jendela. Berdiri atau duduk di samping jendela
adalah kesukaan Anna sejak kecil. Ia tak bisa membayangkan sebuah
rumah tanpa jendela. Dari jendela kamar hotel itu keindahan
sebagian kota Solo bisa dinikmati.
Furqan berdiri di samping Anna.
”Indah ya Mas.” Kata Anna sambil melihat lampu lampu kota Solo
yang tampak memancar ke kuning kuningan.
”Iya.”
”Kita shalat maghrib dulu yuk.” Pinta Anna sambil perlahan
menutup gorden.
”Ayuk.”
Furqan masuk kamar mandi mengambil air wudhu. Sedangkan Anna
melepas jilbab dan kaos kakinya. Furqan keluar, gantian Anna yang
masuk. Usai wudhu Anna mengambil mukena dari kopornya. Furqan
memandangi wajah isterinya dalam-dalam. Ia selalu kagum dengan
wajah yang sangat penyabar itu. Anna tahu suaminya
memperhatikannya. Ia pun memandang lekat-lekat wajah suaminya.
Anna tersenyum. Demikian juga Furqan.
”Ayo sholat nanti kehabisan waktu kita.” Bibir Anna bergetar,
suaranya bening.
”Ayo.”
Furqan menghadap kiblat lalu mengucapkan Takbiratul Ihram.
Setelah Fatihah ia membaca surat Al Kafirun dan Al Ikhlas. Anna makmum di belakangnya dengan wajah menunduk khusyu’. Selesai
shalat, zikir dan doa, Anna mencium tangan suaminya.
Furqan bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Anna bangkit lalu berjalan
ke depan almari. Ia melepas gamisnya. Ia tidak canggung sedikit pun.
Furqan berdesir melihat apa yang dilakukan isterinya. Anna lalu
mengambil gaun pengantin yang ada di dalam kopor dan
mengenakannya. Tak lama kemudian Furqan bagai menyaksikan
bidadari turun dari langit. Ia teringat malam pertamanya. Malam
pertama yang menyiksa batinnya. Yang perihnya masih terasa sampai saat itu.
Anna mengambil parfumnya. Suasana malam pertama itu langsung
tercipta. Bau wangi yasmin menyebar pelan. Bau nan suci merasuk
ke hidung Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darahnya. Membuat
jantungnya berdegup kencang.
Furqan maju dan mencium kening isterinya. Tangan lentik Anna
menggeragap hendak melepas jas yang dikenakan Furqan. Wajah
Anna membara karena gairah.
”Apakah kau benar-benar siap, isteriku sayang?” Tanya Furqan.
”Aku sudah menunggunya dengan dada membara selama enam bulan
suamiku sayang. Apa kau tidak juga mengerti dan paham?”
”Kau siap dengan segala akibatnya?” ”Kalau tidak siap kenapa aku
mau jadi isterimu.” ”Tapi ada satu hal yang kau tidak tahu. Aku tidak
ingin menyampaikan hal ini. Tapi harus aku sampaikan malam ini.
Setelah itu terserah apa keputusanmu.” ”Aku tidak tahu apa yang
Mas maksud.” ”Dik aku sungguh sangat mencintaimu?” ”Sama aku
juga mencintai Mas.” ”Aku sungguh tak ingin kehilanganmu.” ”Aku tahu itu.”
”Namun aku tak ingin menzalimimu. Aku tidak menyentuh mahkota
yang paling berharga milikmu karena aku tidak ingin menzalimimu
Dik. Bukan karena aku tidak mampu. Ada satu tembok sangat kuat
dan berduri yang menghalangiku dari menyentuh mahkota paling
berharga milikmu.”
”Aku tak paham maksudmu Mas.” ”Sesungguhnya saat akad nikah
itu aku sudah tidak perjaka Dik.”
”Apa?!” Anna kaget.
”Maafkan aku Dik, tapi sungguh bukan aku menyengaja.”
”Aku tak percaya! Mas yang ketua PPMI! Mas yang jadi mahasiswa
kebanggaan orang-orang di KBRI! Mas yang sudah selesai S2 dan
kini mau S3! Mas yang mengajar ngaji para santri! Mas yang...
hiks... hiks...” Anna tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
”Maafkan aku Dik, tapi tolonglah kau dengarkan dulu ceritaku,
jangan marah dulu, jangan menangis dulu. Aku akan bercerita
dengan sejujur-jujurnya. Baru setelah itu terserah kamu. Terserah
mau kau apakan aku.” Ucap Furqan mengiba sambil menyeka air
mata Anna. ”Tolong, Dik, dengarkan ceritaku dulu, arjulk31” ”Baik
Mas, akan aku dengar. Tapi mendengar pengakuanmu itu hatiku
sudah sakit.” Kata Anna mengungkapkan rasa dalam hatinya.
”Maafkan aku Dik, maafkan...” Kata Furqan, ia lalu menceritakan
apa yang menimpanya sebelum ia pulang ke Indonesia. Ia bercerita
dengan sejujur-jujurnya.
Ia bercerita tentang peristiwa mengerikan yang menimpanya di
Hotel Meridien. Ia yang tahu-tahu bangun tidur dengan keadaan yang memalukan. Lalu pesan Miss Italiana yang mengintimidasinya.
Tentang foto-foto yang memalukan. Tentang tertangkapnya Miss
Italiana yang ternyata agen Mossad penyebar virus HIV.
Dan tentang dirinya yang divonis positif mengidap HIV. Serta janji
Kolonel Fuad untuk tidak menyebar berita tentangnya, juga janjinya
pada Kolonel Fuad untuk tidak menyebarkan virus HIV yang
diidapnya pada orang lain.
Anna mendengarkan cerita itu dengan hati perih. Ia merasa seperti
ada sebuah tombak berkarat yang menancap tepat di ulu hatinya.
Tangisnya meledak. Furqan diam di tempatnya. Ia tahu kenyataan itu
akan sangat menyakitkan Anna. Tapi jika tidak ia sampaikan ia akan
terus tersiksa. Ia merasa telah lepas dari satu beban psikologis.
Selanjutnya ia akan menyerahkan keputusan seluruhnya pada Anna.
Anna masih menangis tersedui-sedu. Furqan meremas remas
rambutnya, tak tahu ia harus berbuat apa saat itu. Tiba-tiba merasa
sangat kasihan pada isterinya yang sangat dicintainya itu.
Anna masih menangis. Gadis itu mengusap mukanya. Lalu
memandang wajah Furqan dengan nanar dan marah, ”Kau sangat
jahat! Kau begitu tega mendustaiku dan mendustai seluruh
keluargaku! Bahkan kau mendustai seluruh orang yang hadir saat
akad pernikahan kita! Sebelum menikah pegawai KUA itu
membacakan statusmu perjaka! Ternyata kau dusta! Lebih jahat lagi,
ternyata kau mengidap penyakit yang dibenci semua orang, dan kau
tega menyembunyikannya dariku! Kau jahat!”
”Maafkan aku Dik, aku memang jahat!” ”Sangat sulit bagiku
memaafkanmu Fur!” Anna tidak lagi memanggil dengan panggilan
Mas, tapi langsung memanggil nama Furqan! Itu sebagai tanda
dalam hati Anna sudah tidak ada lagi penghormatan pada Furqan.
”Ya aku jahat. Tapi satu hal yang aku minta kau pertimbangkan, aku
sangat mencintaimu, aku sangat menghormatimu, aku tidak ingin
menyakitimu. Aku jahat mungkin, tapi nuraniku mencegahku untuk
menyentuh mahkota kewanitaanmu. Kenapa? Karena aku tahu kau
bisa tertular virus itu. Aku tidak mau terjadi itu padamu. Kalau aku
mau aku bisa lebih jahat lagi. Malam pertama itu aku lakukan
tugasku sebagai suami. Selesai. Kau dan aku kena HIV selesai.
Ketika kau menggugatku aku akan gantian menggugatmu. Kau tidak
mungkin tahu aku kena HIV- Tapi aku tidak lakukan itu!”
”Terus kenapa kau nikahi aku, hah?!” ’Karena aku mencintaimu.”
Dan cintamu itu menyakiti aku! Cintamu itu kini jadi jahnannam
bagiku! Kalau seperti ini apa yang kau inginkan dariku? Sekedar jadi
boneka hias dalam kehidupanmu? Sekedar jadi aroma kamarmu yang
cuma kau hisap dan kau cium-cium baunya? Sekedar jadi simbol
kering. Keangkuhanmu sebagai kelas konglomerat yang merasa
berhak membeli apa saja? Apa yang kau inginkan dariku Furqan?”
”Aku sendiri tak tahu Dik.”
”Kau tahu syariat Fur! Kau tahu kitab Allah, kau tahu tuntunan
Rasulullah! Seharusnya kau tidak menikahiku, iya kan!? Kau tahu
kalau menikahiku itu akan jadi mudharat bagiku. Akan menyakitiku,
iya kan? Dan pernikahan yang pasti menyakiti isteri atau suami itu
haram hukumnya, iya kan!?” Anna mencecar dengan amarah. Ia
berusaha menjaga untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor.
”Iya. Kau benar Dik!”
”Kenapa yang haram itu kau lakukan juga, hah?! Apa kau tidak takut pada Allah!?”
Furqan diam.
”Aku minta maaf, Dik. Aku terima semua keputusanmu.”
”Baik. Ceraikan aku!” Ucap Anna penuh amarah. Jika ia punya palu
dan halal membunuh lelaki di hadapannya, rasanya ia ingin
menghantamkan palu itu ke kepala Furqan hingga hancur berkepingkeping.
Furqan diam. Hatinya bagai tertusuk pisau yang sangat tajam. Tapi ia
sudah menyiapkan saat-saat Anna akan mengucapkan kalimat itu. Ia
insyaf yang salah adalah dirinya, bukan Anna.
”Tak ada pilihan lain Dik?”
”Tidak!”
”Kalau begitu, kapan aku harus menceraikan dirimu?”
”Sekarang juga!”
”Sekarang?”
”Iya!”
”Akan aku ceraikan kamu Dik, meskipun dengan hati sakit, tapi
dengan dua syarat.”
”Aku tak mau ada syarat!”
”Kalau begitu urusannya akan jadi panjang, aku akan benar-benar
berubah jadi penjahat sekalian!”
”Maksudmu apa Fur?
”Kau tak sedikitpun berempati padaku. Aku ini sudah hancur sejak
sebelum pulang ke tanah air. Menikah denganmu adalah sedikit
untuk mengobati sakitku. Aku seperti mayat yang berjalan. Cahaya
hidupku seperti telah padam. Kau tahu, aku tak punsa tempat untuk
berbagi nestapa. Ayah ibuku saja tidak tahu apa yang sebenarnya
menimpa putranya. Dalam rasa sedihku yang hampir bercampur
putus asa aku masih menggunakan nuraniku. Yaitu dengan tetap
menjaga kesucianmu. Aku tak ingin menularkan virus itu padamu.
”Kau sedikitpun tak mau berempati padaku. Baiklah, aku cuma
mensyaratkan dua syarat yang tidak berat padamu kalau kau ingin
agar aku menceraikanmu. Yaitu pertama ijinkan aku mencium
keningmu sekali lagi. Ciuman perpisahan, sebab ketika kata-kata
cerai telah aku ucapkan maka aku tidak halal lagi menciummu. Yang
kedua, tolong rahasiakan apa yang menimpaku. Demi menjaga
kehormatan keluargaku dan juga kehormatan keluargamu. ”Kalau
kau obral cerita ini, dan kau tidak punya bukti, maka perang akan
berkobar amtara keluargaku dan keluargamu.
Kita semua akam sama-sama binasa. Meskipun aku tidak
menginginkannya, pasti orang-orang yang menyayangiku tidak akan
pernah terima dengan ceritamu. Katakan saja pada keluargamu, nanti
kalau kita cerai, cerai kita karena sudah tidak mungkin cocok lagi.
”Itulah syarat yang aku minta padamu. Kalau kau tidak juga mau
maka mungkin tak ada pilihan lagi bagiku kecuali jadi penjahat
sekalian. Toh kau sudah bilang aku jahat. Malam ini juga dengan
gaun pengantin yang kau kenakan akan aku renggut kehormatanmu
di kamar ini. Setelah itu terserah apa maumu. Seandainya kau
berteriak, aku santai saja, kita kan masih suami isteri. Aku berhak
melakukan itu padamu. Meskipun kau menolaknya.
”Kalau kau mengadu pada ayahmu misalnya kau merasa diperkosa,
paling mereka tertawa. Toh kamu sudah sering memperlihatkan di hadapan mereka pura-pura mandi sebelum Subuh. Kenapa kali ini
merasa diperkosa. Toh kita tadi berangkat dengan menampakkan
kemesraan di hadapan mereka. Hanya itu pilihan untukmu Dik.”
Furqan berkata kepada Anna dengan hati bergetar. Ia tidak ingin
mengatakan hal itu. Tapi entah kenapa melihat amarah Anna,
amarahnya ikut menyala. Mendengar perkataan Furqan, Anna jadi
berpikir bagaimana secepatnya menyelamatkan jiwanya. Ia tak mau
diperkosa sama Furqan. Ia tak bisa membayangkan dirinya terkena
virus HIV. Akhirnya dengan suara lunak, Anna menjawab,
”Baik, aku terima syaratmu. Tapi aku pegang janjimu, kau ceraikan
aku setelah kau mencium keningku.”
”Aku akan pegang janjiku. Allah jadi saksi kita berdua. Aku juga
pegang janjiku untuk merahasiakan yang terjadi di antara kita. Demi
menjaga kehormatan keluarga kita masing-masing.”
”Baik Fur.”
”Aku tahu, setelah ini kau pasti takut dan tidak mungkin tidur lagi
sekamar denganku. Jangan takut. Aku akan pesankan kamar
untukmu. Kau yang pegang kunci. Besok pagi kau bisa pulang pakai
taksi. Kau bisa memberikan alasan yang tepat pada keluargamu.”
Kata Furqan.
”Terima kasih Fur. Tapi biar aku cari hotel lain sendiri”
”Terserah kau, kemasilah barang-barangmu!”
Anna lalu mengemasi semua barangnya. Ia mengambil gamisnya lalu
masuk ke kamar mandi. Tidak seperti awal masuk hotel tadi tidak
peduli ganti pakaian di hadapan Furqan, kali ini ia merasa Furqan
adalah orang lain. Ia melepas gaun pengantinnya di kamar mandi dan menggantinya dengan gamis. Ia memakai jilbabnya kembali, juga
kaos kaki. Lalu ia keluar dan memasukkan gaun pengantinnya ke
koper.
”Sudah semua?” Tanya Furqan.
”Tak ada yang ketinggalan?”
”Tidak.”
”Kemarilah isteriku!” Kata Furqan.
Anna maju dan duduk di samping Furqan yang sejak tadi duduk di
tepi ranjang. Dengan penuh cinta Furqan mencium kening Anna.
Sebuah ciuman perpisahan.
”Maafkan aku Anna, aku telah menyakiti hatimu dan nyaris
menghancurkan hidupmu.” Lirih Furqan dengan suara terisak-isak.
”Aku percaya pada ceritamu Fur. Kau adalah korban tak bersalah.
Tapi aku tak bisa hidup denganmu lagi.” ”Aku tahu.”
”Aku sudah penuhi syaratmu, sekarang aku tagih janjimu!” Ucap
Anna tegas.
”Aku nikahi kau dengan baik-baik, maka aku cerai kau dengan baikbaik.
Mulai saat ini aku cerai kau Anna’ Kau bukan lagi isteriku, dan
aku bersumpah tak akan lagi kembali kepadamu!”
”Terima kasih Fur. Aku harus pergi!”
Dengan linangan air mata Anna keluar dari kamar itu. Ia tak tahu
akan ke mana. Yang ia inginkan adalah segera keluar dari hotel itu secepatnya. Ingin rasanya ia lari sejauh jauhnya lalu menangis
sejadi-jadinya.
Begitu Anna pergi, Furqan menangisi nestapanya. Orang yang paling
dicintainya itu sudah sangat jauh darinya. Ia merasa hanya mukjizat
yang akan mempertemukan dirinya dengan Anna kembali. Jika ia
dibenci oleh Anna, maka Anna tidaklah bersalah. Dirinyalah yang
salah. Apa dosa Anna sampai harus ikut terkena getah nestapa yang
menderanya. Dirinyalah yang zalim dan aniaya. Dialah yang selama
ini buta kehilangan kesadarannya.
Anna memejamkan mata. Bulir-bulir bening keluar dari kelopak
matanya. Ia mengadu kepada Yang Maha pengasih dan Penyayang,
Ya Allah hilangkanlah segala sebab yang menjadikan kami berkeluh
kesah takut, cemas, sedih, dan marah. Amin
Keluar dari Novotel, Anna langsung menghubungi taksi langganan
Abahnya. Lima belas menit kemudian, taksi itu datang
menjemputnya.
”Kemana Neng? Mau pulang?” Tanya sopir taksi yang sudah tua itu.
”Anu Pak. Antar saya ke Hotel Quality!”
”Baik Neng.”
Taksi berjalan ke arah Monumen Pers. Lalu belok kiri. Langit
tertutup awan tipis. Rembulan muncul tenggelam. Anna Althafunnisa
masih juga belum percaya apa yang dialaminya. Ia telah menjadi
janda. Ia cemas dan gelisah. Ia takut menghadapi status barunya yaitu seorang janda.
Anna menerawang ke depan dengan pandangan kosong, ia belum
menemukan kalimat apa yang akan disampaikannya kepada Abah
dan Umminya. Ia meraba dalam hati, apakah ini tafsir keraguan tipis
yang selalu menderanya saat akan mengiyakan lamaran Furqan dulu?
Kenapa dulu ia tergesa-gesa menjawab ’iya’.
INDAH‐MU
Ke atas bersama awan, melayang
Dalam tujuh tangganya,
Aku diapit Jibril untuk meleleh dalam panasNYA.....
Semut‐semut tak tahu bahwa boraq menjemputku,
Keledai liar menertawakanku,
Sementara diri ini tetap terpejam........
Cahaya itu tak asing dalam rinduku,
Bahasa inipun gagal untuk menerangkan indahMU......
Duhai Engkau,
Yang Maha tak terjelaskan dari segalanya
WangiMU merasukiku sehingga aku lupa akan kotorku,
Bunga mawar indah itu,
Duhai Engkau yang semerbak berjutanya,
Menjadikan aku,tetap dalam gagapku......
Ke atas bersama awan, melayang
Dalam tujuh tangganya,
Aku diapit Jibril untuk meleleh dalam panasNYA.....
Semut‐semut tak tahu bahwa boraq menjemputku,
Keledai liar menertawakanku,
Sementara diri ini tetap terpejam........
Cahaya itu tak asing dalam rinduku,
Bahasa inipun gagal untuk menerangkan indahMU......
Duhai Engkau,
Yang Maha tak terjelaskan dari segalanya
WangiMU merasukiku sehingga aku lupa akan kotorku,
Bunga mawar indah itu,
Duhai Engkau yang semerbak berjutanya,
Menjadikan aku,tetap dalam gagapku......
"Sebagian kita seperti tinta dan sebagian lagi seperti kertas. Dan jika bukan karena hitamnya sebagian kita, sebagian kita akan bisu. Dan jika bukan karena putihnya sebagian kita, sebagian kita akan buta."
"Pikiran kita bagai spons; hati kita sungai. Bukankah aneh kebanyakan dari kita lebih senang mengisap bukannya mengalir?"
"Jika seseorang menertawaimu, kamu bisa mengasihinya; tetapi jika kamu menertawainya kamu mungkin tidak akan bisa memaafkan dirimu. Jika seseorang menyakitimu, kamu bisa melupakan sakitnya; tetapi jika kamu menyakiti dia, kamu akan selalu ingat. Sebab, sesungguhnya orang lain itu bagian diri kamu yang paling sensitif dalam tubuh lain."
"Ketika kamu sampai pada akhir dari apa yang kamu mesti ketahui, kamu akan berada pada awal dari apa yang kamu mesti rasakan."
"Seandainya kamu hanya melihat apa yang ditampakkan oleh cahaya dan hanya mendengar apa yang dibunyikan oleh suara, maka sebenarnya kamu tidak melihat dan mendengar apapun."
"Kita boleh saja berubah menurut musim, tetapi musim tidak akan mengubah kita."
"Dia yang memandang pada bayangan-bayangan yang kecil dan dekat akan memperoleh kesulitan untuk melihat dan membedakan bayangan-bayangan yang besar dan jauh."
"Kemajuan bukanlah karena memperbaiki apa yang telah kau lakukan, tapi mencapai apa yang belum kau lakukan. "
"Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya. Seorang pesimis merenungi duri, acuh tak acuh pada bunganya. "
"Nilai manusia terletak pada apa yang diciptakannya, bukan pada jumlah milik yang dikumpulkannya. "
"Seandainya aku mengisi diriku sendiri dengan semua yang kamu ketahui, ruang apa yang harus aku miliki untuk menampung semua yang tidak kamu ketahui? "
"Kita memilih kegembiraan-kegembiraan kita dan kesedihan-kesedihan kita lama sebelum kita mengalaminya. "
"Jika kamu membuka rahasia-rahasiamu kepada angin, kamu tidak boleh menyalahkan angin karena membuka rahasiamu kepada pohon-pohon. "
"Pikiran kita bagai spons; hati kita sungai. Bukankah aneh kebanyakan dari kita lebih senang mengisap bukannya mengalir?"
"Jika seseorang menertawaimu, kamu bisa mengasihinya; tetapi jika kamu menertawainya kamu mungkin tidak akan bisa memaafkan dirimu. Jika seseorang menyakitimu, kamu bisa melupakan sakitnya; tetapi jika kamu menyakiti dia, kamu akan selalu ingat. Sebab, sesungguhnya orang lain itu bagian diri kamu yang paling sensitif dalam tubuh lain."
"Ketika kamu sampai pada akhir dari apa yang kamu mesti ketahui, kamu akan berada pada awal dari apa yang kamu mesti rasakan."
"Seandainya kamu hanya melihat apa yang ditampakkan oleh cahaya dan hanya mendengar apa yang dibunyikan oleh suara, maka sebenarnya kamu tidak melihat dan mendengar apapun."
"Kita boleh saja berubah menurut musim, tetapi musim tidak akan mengubah kita."
"Dia yang memandang pada bayangan-bayangan yang kecil dan dekat akan memperoleh kesulitan untuk melihat dan membedakan bayangan-bayangan yang besar dan jauh."
"Kemajuan bukanlah karena memperbaiki apa yang telah kau lakukan, tapi mencapai apa yang belum kau lakukan. "
"Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya. Seorang pesimis merenungi duri, acuh tak acuh pada bunganya. "
"Nilai manusia terletak pada apa yang diciptakannya, bukan pada jumlah milik yang dikumpulkannya. "
"Seandainya aku mengisi diriku sendiri dengan semua yang kamu ketahui, ruang apa yang harus aku miliki untuk menampung semua yang tidak kamu ketahui? "
"Kita memilih kegembiraan-kegembiraan kita dan kesedihan-kesedihan kita lama sebelum kita mengalaminya. "
"Jika kamu membuka rahasia-rahasiamu kepada angin, kamu tidak boleh menyalahkan angin karena membuka rahasiamu kepada pohon-pohon. "
PESAN EMAS KAHLIL GIBRAN
"Sebagian kita seperti tinta dan sebagian lagi seperti kertas. Dan jika bukan karena hitamnya sebagian kita, sebagian kita akan bisu. Dan jika bukan karena putihnya sebagian kita, sebagian kita akan buta."
"Pikiran kita bagai spons; hati kita sungai. Bukankah aneh kebanyakan dari kita lebih senang mengisap bukannya mengalir?"
"Jika seseorang menertawaimu, kamu bisa mengasihinya; tetapi jika kamu menertawainya kamu mungkin tidak akan bisa memaafkan dirimu. Jika seseorang menyakitimu, kamu bisa melupakan sakitnya; tetapi jika kamu menyakiti dia, kamu akan selalu ingat. Sebab, sesungguhnya orang lain itu bagian diri kamu yang paling sensitif dalam tubuh lain."
"Ketika kamu sampai pada akhir dari apa yang kamu mesti ketahui, kamu akan berada pada awal dari apa yang kamu mesti rasakan."
"Seandainya kamu hanya melihat apa yang ditampakkan oleh cahaya dan hanya mendengar apa yang dibunyikan oleh suara, maka sebenarnya kamu tidak melihat dan mendengar apapun."
"Kita boleh saja berubah menurut musim, tetapi musim tidak akan mengubah kita."
"Dia yang memandang pada bayangan-bayangan yang kecil dan dekat akan memperoleh kesulitan untuk melihat dan membedakan bayangan-bayangan yang besar dan jauh."
"Kemajuan bukanlah karena memperbaiki apa yang telah kau lakukan, tapi mencapai apa yang belum kau lakukan. "
"Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya. Seorang pesimis merenungi duri, acuh tak acuh pada bunganya. "
"Nilai manusia terletak pada apa yang diciptakannya, bukan pada jumlah milik yang dikumpulkannya. "
"Seandainya aku mengisi diriku sendiri dengan semua yang kamu ketahui, ruang apa yang harus aku miliki untuk menampung semua yang tidak kamu ketahui? "
"Kita memilih kegembiraan-kegembiraan kita dan kesedihan-kesedihan kita lama sebelum kita mengalaminya. "
"Jika kamu membuka rahasia-rahasiamu kepada angin, kamu tidak boleh menyalahkan angin karena membuka rahasiamu kepada pohon-pohon. "
"Pikiran kita bagai spons; hati kita sungai. Bukankah aneh kebanyakan dari kita lebih senang mengisap bukannya mengalir?"
"Jika seseorang menertawaimu, kamu bisa mengasihinya; tetapi jika kamu menertawainya kamu mungkin tidak akan bisa memaafkan dirimu. Jika seseorang menyakitimu, kamu bisa melupakan sakitnya; tetapi jika kamu menyakiti dia, kamu akan selalu ingat. Sebab, sesungguhnya orang lain itu bagian diri kamu yang paling sensitif dalam tubuh lain."
"Ketika kamu sampai pada akhir dari apa yang kamu mesti ketahui, kamu akan berada pada awal dari apa yang kamu mesti rasakan."
"Seandainya kamu hanya melihat apa yang ditampakkan oleh cahaya dan hanya mendengar apa yang dibunyikan oleh suara, maka sebenarnya kamu tidak melihat dan mendengar apapun."
"Kita boleh saja berubah menurut musim, tetapi musim tidak akan mengubah kita."
"Dia yang memandang pada bayangan-bayangan yang kecil dan dekat akan memperoleh kesulitan untuk melihat dan membedakan bayangan-bayangan yang besar dan jauh."
"Kemajuan bukanlah karena memperbaiki apa yang telah kau lakukan, tapi mencapai apa yang belum kau lakukan. "
"Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya. Seorang pesimis merenungi duri, acuh tak acuh pada bunganya. "
"Nilai manusia terletak pada apa yang diciptakannya, bukan pada jumlah milik yang dikumpulkannya. "
"Seandainya aku mengisi diriku sendiri dengan semua yang kamu ketahui, ruang apa yang harus aku miliki untuk menampung semua yang tidak kamu ketahui? "
"Kita memilih kegembiraan-kegembiraan kita dan kesedihan-kesedihan kita lama sebelum kita mengalaminya. "
"Jika kamu membuka rahasia-rahasiamu kepada angin, kamu tidak boleh menyalahkan angin karena membuka rahasiamu kepada pohon-pohon. "
Langganan:
Komentar (Atom)
